Misteri Perempuan Bercadar Anti Peluru Dan Kaki Penuh Tato – Kisah Pengalaman Pribadi Aksi Kedaulatan Rakyat (2)

Geger video yang menampilkan sosok seorang perempuan bercadar berjalan sendirian ke tengah jalan dan banyak yang terkagum-kagum melihatnya, termasuk saya. Namun saya teringat dengan sosok perempuan yang saya lihat di seputar Gedung Sarinah sore harinya, hati saya berbisik, “Ada yang janggal dengan perempuan itu”. Gayanya dan bawaan yang dibawanya terlalu berlebihan. Saat lompat pagar masuk ke dalam halaman gedung pun, karena semua akses ditutup,  kawan saya bertanya, “Kok bercadar tapi kenapa kakinya yang tersingkap saat menaiki pagar, kok penuh tato?”. Orang yang samakah?!

Saya sangat kagum dengan emak-emak yang turut dalam aksi Kedaulatan rakyat 21-22 Mei di depan Bawaslu, nyalinya benar-benar harus diacungi jempol. Tak sedikit yang masuk ke ring 1 area aksi dan mereka berani memberikan bunga dan berbincang dengan polisi Brimob di sana, meski harus merasakan tekanan yang ada. Saya  sempat khawatir juga mengingat banyak yang sudah tidak muda lagi dan  sepertinya  kurang fit bila harus berlari dan jalan jauh, sementara emosi  sulit dikendalikan.

Seperti emak-emak yang ada di teras dan  pelataran parkir Gedung Sarinah pada tanggal 21 Mei lalu. Mereka datang dari mana-mana, ada yang jauh dari BSD, Serang, Tegal, Malang, Bandung, Bogor, dan lain-lain yang tentunya membuat kondisi fisik  capek dan letih. Saya sengaja mengajak mereka berbincang, sekaligus silaturahmi, apalagi saya juga harus awasi rombongan emak-emak alumni SMANDEL Jakarta yang datang bersama saya, dan semuanya di atas saya jauh. Berhubung yang paling muda, ya saya harus tahu dirilah. Kalau  ada yang dibutuhkan, saya masih sanggup berlari.

Kami berhadapan langsung dengan pasukan Brimob yang berjejer dengan tameng mereka, dan tidak peduli. Ada emak-emak yang terpeleset di tangga pun mereka acuhkan, padahal ada di depan mata, sejauh tangan  mereka. Saya kesal juga melihatnya., lagipula n menurut saya, tidak ada guna mereka masuk ke dalam, untuk apa? Apa yang mau mereka lakukan di dalam? Wajar jika banyak emak-emak yang terpancing emosi dan mulai bicara nada tinggi dan tak sedap didengar telinga. Ada yang bertolak pinggang dan mulai mencoba mendorong tameng polisi dan meminta tameng mereka diturunkan. Saya sempat memberikan arahan, “Bu, jangan pancing mereka! Diam sajalah! Biarkan mereka apa maunya!”.

Saya putuskan naik ke atas  untuk  melihat situasi dari atas agar lebih jelas. Beruntung saya berjumpa dengan banyak TNI dari Kodam yang membangun barak di atas dan saya agak tenang. Beberapa orang TNI akhirnya turun dan berdiri di antara polisi dan emak-emak. Lega rasanya! Saya yakin TNI ada di pihak yang sama, dan mereka tidak akan turun bila tidak ada pancingan kerusuhan. Berbeda mereka dengan para Brimob yang ada di sana. Saya lebih banyak di atas pada akhirnya, saya pikir lebih baik agar ada yang bisa memantau lebih jelas, kalau di bawah pemandangan terbatas karena banyak orang.

Kembali ke soal perempuan bercadar tadi, saya sempat melihatnya lagi berjalan ke samping kanan gedung dengan segala barang bawaannya, repot sekali melihatnya pun. Saya tidak perhatikan lebih jauh, namun ketika beredar info bahwa ternyata perempuan bercadar yang misterius itu adalah hanya sedang akting saja,saya tidak heran. Perempuan sangat mudah dijadikan alat  kepentingan pada saat dan situasi demikian, dan karena banyak emak-emak yang bernyali,  jika tidak hati-hati akan sangat mudah disusupi.

Perempuan Indonesia memang keren dan kuat, tak perlu teriak soal emansipasi pun  sudah sangat kuat karena fitrahnya. Perempuan Indonesia harus terus berjuang bagi perubahan dan masa depan yang lebih baik. Biarkan  saja perempuan-perempuan cengeng itu terus merengek, merajuk hanya untuk uang dan kekuasaan. Misteri kehebatan perempuan Indonesia adalah misteri Allah yang jauh lebih dahsyat dibandingkan perempuan bercadar yang hanya pura-pura hebat! Nggak usah bertato pun lebih sangar, deh!!!

Merdeka!!! Allahu Akbar!!!

 

Bandung, 24 Mei 2019

16:29 WIB

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

 

 

 

 

 

Hati Kami Pun Harus Dipisahkan Posisi Dan Kondisi – Kisah Pengalaman Pribadi Aksi Kedaulatan Rakyat (1)

Jantung berdegup kencang ketika seorang anggota Brimob yang menjaga Aksi Kedaulatan Rakyat di lapangan parkir Gedung Sarinah, depan Kantor Bawaslu tanggal 22 Mei 2019 lalu,  memanggil saya. “Kak Mariska! Pue haba, Kak? Kapan kakak ke Aceh lagi? Masih ingat saya, Kak?” katanya sambil tersenyum ramah sekali. Hati saya terguncang melihatnya, rasanya ingin menangis, mengingat pada saat itu kami dalam posisi dan kondisi yang berbeda. Saya tidak ingat dia siapa, namun saya dapat membayangkan semua  cerita indah yang saya dapatkan selama saya bolak-balik Aceh dan berjumpa banyak sekali orang. Sedih kami berjumpa lagi di Jakarta justru harus dalam posisi berlawanan. Ada perih yang menusuk hati saya.

Begitu pun ketika sebelumnya saya menghampiri pagar gedung untuk melihat situasi dan keadaan di Jalan Thamrin yang dipenuhi  pasukan Brimob di hadapan mata sementara para peserta aksi ramai sekali di sebelah kanan dan belakang saya. tahu sebelumnya oleh kawan, bahwa  pasukan Brimob yang menjaga hari itu adalah kiriman dari Aceh.  Saya agak terkejut, apalagi hari itu adalah Hari ke-17 Ramadhan, dan saya yakin para  anggota Brimob di sana yang dari Aceh ikut berpuasa juga. Salah seorang dari mereka menyapa saya, “Saya tahu Kakak. Kakak penulis yang dikenal dan banyak menulis di Aceh. Wajah kakak banyak yang kenal”.

Saya langsung mengajaknya berbincang ringan. “Sejak kapan dikirim ke  Jakarta, dik?”.

“Sebulan lebihlah, Kak”, jawabnya.

“Kamu pasti kuat, karena panas di sini tak sepanas di Aceh, ya?”.

“Ya Kak, tapi saya puasa Kak”.

Saya bisa membayangkan bagaimana beratnya dia, harus berpuasa menjalankan ibadahnya, namun di sisi lain, dia juga harus mematuhi perintah atasannya pan dengan saudara-saudaranya  sendiri yang seiman dan setanah air. Saya berharap saat itu, semoga tidak terjadi peristiwa yang lebih buruk dari malam sebelumnya. Hari sebelumnya, tempat saya berdiri yang sama, saya dapat menyaksikan pasukan Brimob yang berjaga banyak yang tidak berpuasa. Dalam benak saya, masih terbayang  pasukan yang bersiap seolah hendak perang di hadapan mata, justru pada saat rakyat yang melakukan aksi masih sedang  shalat tarawih bersama. Dan kejadian tidak dapat dihindarkan, benar setelah shalat baru saja selesai, rakyat yang beraksi damai harus berhadapan dengan mereka. Saat itu, saya hanya berharap semoga puasa bisa membantu menjernihkan hati dan pikiran, sehingga  mampu memilah mana yang lebih prioritas untuk dibela.

Sebelum saya pergi, saya sempat menggodanya, “Pulang kita nanti yah! Jangan lewatkan  meugang!”. (meugang, adat budaya Aceh memasak dan makan bersama.)

Dia dan kawan-kawan di sampingnya yang masih duduk di bawah pohon di atas trotoar pun tersenyum, “Hari Raya, ya Kak!”.

Alangkah mirisnya hati, ketika baru saja buka puasa dan selesai shalat magrib, saya mendengar suara riuh rendah dan melihat banyak orang berlarian. Ibu-ibu yang berlari melintas di depan saya menyuruh saya pergi dan menghindar. Kebetulan saya dan anak saya sedang berada di samping gereja Theresia yang berada di belakang Gedung Sarinah, kami memang duduk di sana dari sebelum buka untuk mencari signal internet yang sepertinya sengaja diblokir di area Gedung Sarinah, sehingga sulit berkomunikasi. Apalagi sebelumnya sudah ada pengumuman  bahwa medsos akan diblokir  juga mulai pukul 18-20 WIB, saya harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya agar bisa terus berhubungan dengan banyak orang di luar area, memberi tahu sitasi dan kondisi terkini. Shalat magrib pun saya menumpang di mushala sebuah cafe yang ada di seberang jalan.

Saya tidak habis pikir, bagaimana orang bisa berbuka puasa dengan cara melakukan kekerasan terhadap saudara seiman dan setanah air,  pada rakyat yang seharusnya dibela dan dilindungi serta dilayani dan diprioritaskan haknya. Tidak ada waktu dan kesempatan diberikan untuk shalat isya dan tarawih bersama kembali, dan entah apakah perintah atasan lebih penting daripada perintah Allah, sehingga mereka pun  tak melakukan ibadah shalat sebagaimana semestinya. Hingga malam, keadaan semakin memburuk., banyak ambulance  melintas kencang di hadapan saya membawa korban. Hingga larut malam, saya pergi sekitar pukul 1 dini hari, keadaan masih berantakan sekali. Massa masih banyak dan korban pun semakin banyak yang berjatuhan akibat gas air mata dan entah lainnya.

Sepanjang  malam saya tidak bisa tidur nyenyak walau badan sangat letih. Hati saya masih terluka. Mengapa hati kami harus terpisah hanya karena situasi dan kondisi? Apakah benar bahwa hati itu memang sudah tak ada lagi hanya karena urusan  uang dan jabatan? Apakah memang Allah itu dianggap tidak lagi ada, dan atasan yang hanya manusia biasa  jauh lebih ditakuti? Entahlah.

Semoga Allah memberikan hidayah bagi mereka yang sudah kehilangan hatinya.

 

Bandung, 24 Mei 2019

02:38 WIB

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

 

 

 

Keledai Durjana Memang Tak Memiliki Kemaluan

Sudah suaranya parau, teriaknya kencang dan kasar pula, tidak juga memiliki rasa malu. Kerjanya hanya membuat malu, mempermalukan, dan menunjuk jari untuk menutupi semua kemaluannya yang sudah hilang. Tidak ada setitik pun kemaluan yang tersisa, walau merasa otak masih dimiliki. Padahal, otak yang sudah berantakan itu tidak ada isinya lagi jika tidak memiliki kemaluan sama sekali. Semua yang dipikirkan dan diucapkan hanyalah menjadi fatamorgana keledai pemimpi di siang bolong yang membuatnya menjadi durjana.

Mengikuti apa yang dilakukan para keledai ini pernah membuat saya marah, namun kini sudah tidak ada lagi marah yang tersisa. Saya hanya tertawa dan tersenyum saja menyaksikan setiap tingkah polah dan kata-kata yang mereka ucapkan. Biarlah saya dibilang sombong sekalipun, tetapi memang tidak ada gunanya menanggapi mereka, keledai memang bukan kuda. Tidak perlu dibandingkan, karena memang tidak sebanding, apalagi para keledai durjana yang sudah tak berkemaluan itu.

Continue reading Keledai Durjana Memang Tak Memiliki Kemaluan

Ketika Dungu Itu Bukan Lagi Fiksi

Setiap kali dengar kata dungu, saya jadi selalu teringat dengan sebuah literatur drama yang dibuat oleh seorang penulis Yunani di masa lalu, bernama Euripides. Drama itu berjudul “The Bacchae/The Bakkai” yang menceritakan tentang sebuah tragedi yang terjadi di kerajaan, di mana raja dan ibunya mendapatkan hukuman dari dewa karena tidak mau menyembah dewa tersebut. Ada sebuah quote dari drama ini yang terkenal, “Talk sense to a fool and he calls you a foolish” dan menurut saya ini adalah sebuah fakta, bukan sekedar sebuah pernyataan fiksi walaupun berdasarkan dari imajinasi yang menghasilkan pemikiran dan dituangkan lewat kata-kata. 

 

“Siapa yang paling pandai memainkan boneka keledai?”

Sumber gambar: http://www.doitecofashionshow.com/-stupid-donkey-design-plush-hand-puppet

Continue reading Ketika Dungu Itu Bukan Lagi Fiksi

“Bohong Atau Kalah!” – Trend Strategi Politik Usang Yang Masih “In”

Berapa banyak di antara kita yang sudah lelah dengan berita hoax yang beredar di masyarakat? Yang pasti, saya sudah sangat lelah dengan hal ini, apalagi sosial media mempermudah peredaran berita hoax ini. Ditambah lagi dengan malasnya masyarakat untuk mengecek, belajar, dan mempelajari segala sesuatunya, lebih sering mengambil jalan pintas dan enaknya saja, peredaran hoax pun menjadi semakin mudah. Gilanya, kemudian hoax ini juga digunakan untuk membuat masyarakat semakin kebingungan, tidak tahu mana yang benar dan salah lagi, sehingga yang diandalkan hanya soal suka dan tidak suka saja, tanpa menggunakan logika. Kebenaran itu pun pada akhirnya tergantung pada masing-masing saja, pokoknya kalau tidak suka ya salah, kalau suka salah pun pasti benar. Inilah yang kemudian membuat juga para politisi menggunakannya untuk mendapatkan kemenangan. Bohong atau kalah!

Sumber: http://alpha411.blogspot.com/2016/09/americans-trust-in-mass-media-sinks-to.html

Bukan hanya terjadi di Indonesia, politisi yang melakukan kebohongan untuk menang juga dilakukan di berbagai negara di dunia ini. Bahkan Donald Trump pun sedang menghadapi tuduhan sudah melakukan banyak dusta, menyangkal apa yang sudah diucapkannya sendiri pada saat kampanye. Tidak hanya politisi, perusahaan-perusahaan besar seperti Facebook dan FB pun sudah melakukannya. Mereka melakukan penjualan data, praktek mata-mata, dan lainnya demi meraup keuntungan dan kepentingan politik. Sudah banyak tuduhan yang menyebutkan bahwa mereka terlibat dalam upaya pembohongan publik ini untuk memenangkan pihak tertentu. Media massa pun tidak mau ketinggalan sehingga suasana politik semakin tidak karuan lagi. Kredibilitas media massa terus dipertanyakan di seluruh dunia ini. Tak heran bila strategi politik using ini terus “In” dipakai dan digunakan untuk mendapatkan kemenangan dan kekuasaan.

Continue reading “Bohong Atau Kalah!” – Trend Strategi Politik Usang Yang Masih “In”

Taman Vertikal Baru Di Rumah Dan Koleksi Anggrek

Saya sangat suka dengan bunga dan tanaman, sejak saya kecil. Bagi saya mereka adalah keindahan yang sesungguhnya yang tidak pernah membuat saya bosan. Lagipula, mereka adalah teman saya bicara setiap hari. Setiap bangun tidur dan sore hari, pada saat saya menyiram mereka, saya selalu berbincang dengan mereka. Tak jarang juga saya memutar lagu-lagu dan membacakan puisi saya untuk mereka dengar, Mungkin kelihatannya seperti orang gila, tetapi tak apalah. Mereka makhluk hidup yang bisa mendengarkan suara saya dengan cara mereka sendiri. Dan, saya sangat senang karena baru dua minggu lalu selesai merenovasi taman vertikal di dalam rumah, di atas kolam tepatnya. Senang sekali bisa melihat anggrek-anggrek koleksi saya jadi semakin banyak berkerumun tepat di depan kamar tidur dan ruang tempat saya biasa menulis dan membaca. Segar!

Exif_JPEG_420

Taman vertikal baru sedang ditata.

Sewaktu saya masih baru lulus SMA dan mulai kuliah di jakarta, saya dan kawan saya memutuskan untuk membuat sebuah toko bunga segar di Mall depan kampus. Pada waktu itu, tahun 1992-an, boleh dibilang hampir tidak ada yang membuat toko bunga segar di Mall, dan kami memberanikan diri untuk memulainya. Saya yang mendesain dan merancang semua rancangan bunganya, dan saya selalu berusaha menggunakan bunga yang masih berakar, bukan bunga potong. Saya ingin orang lebih menghargai tanaman dan mencoba untuk merawatnya, dan saya yakin bila sudah saya hias tentunya akan berbeda. Alhasil, toko kami laris manis apalagi kalau sedang menjelang hari raya dan ada peryaan khusus. Hotel, para pengusaha, dan pejabat pun menjadi langganan toko kami. Sejak saat itu jugalah saya memutuskan untuk mengoleksi anggrek, kembang sepatu, paku-pakuan, suplir, anterium, dan kembang sepatu. Saya sangat jarang sekali pergi ke pertokoan, saya lebih senang berburu tanaman yang saya suka dan menjadikannya koleksi.

Anggrek sisir yang rajin berbunga.

Continue reading Taman Vertikal Baru Di Rumah Dan Koleksi Anggrek

Kapan Bully Di Sekolah Mampu Dihentikan?

Kemarin dua anak saya yang terkecil menangis karena mereka dibully oleh teman-teman mereka di sekolah. Ini bukan yang pertama kalinya terjadi terhadap mereka yang bersekolah di SD Sukarasa 196, KPAD Gegerkalong, Bandung. Sudah sering mereka harus menghadapi bully dan kata-kata kasar yang tidak pantas dilakukan oleh siswa sekolah, apalagi mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, tentunya sulit untuk diatasi oleh guru dan pihak sekolah, sebab apa yang terjadi sudah merupakan rantai dari pendidikan yang salah di rumah dan lingkungan, termasuk yang dilakukan lewat media dan oleh banyak orang. Jika hal ini terus dianggap sepele dan diabaikan, terutama oleh para orang tua serta seluruh masyarakat Indonesia, maka jangan harap kita menjadi negara maju dan berkembang, tetapi akan terus jatuh terperosok dan hancur.

Sebelumnya, mereka bersekolah di SD Isola, juga di Gegerkalong dan saya sengaja memasukkan mereka ke sekolah “rakyat” karena saya ingin mereka benar-benar bisa merakyat. Soal mutu dan kualitas pendidikan, bagi saya sama saja di mana-mana, sangat tergantung kepada cara orang tua mendidik anaknya masing-masing saja. Sekolah mahal dan terkenal pun sudah terbukti tidak mampu menghasilkan manusia-manusia yang bisa memberikan banyak guna dan manfaat serta perubahan yang lebih baik bagi bangsa, negara, dan dunia. Jika hanya soal kemudahan mendapatkan pekerjaan, makan, kedudukan, jabatan, dan kekayaan, itu hanyalah urusan survival dalam kehidupan yang dilakukan oleh seluruh makhluk hidup. Manusia pun sama bisa demikian, karena manusia juga adalah mamalia, namun manusia memiliki kelebihan lain yang membuat manusia bisa berpikir dan memiliki ilmu pengetahuan, lebih dari hanya sekedar untuk menjadi mamalia.

Continue reading Kapan Bully Di Sekolah Mampu Dihentikan?

Happy Batik Day! Selamat Hari Batik! (Bilingual)

October 2nd is Batik Day in Indonesia as a celebration as well as to mark the anniversary of when UNESCO I recognized put batik as a Masterpiece of Oral and on the representative list of Intangible Heritage of Humanity in 2009. This is important to be recognized by the world and especially or Indonesian since Batik is very precious. Batik is not only represent the culture and beauty, but also long history of civilization and philosophy of life. Some might still refuse the existence of Batik because it is seen as for Javanese only, but the the fact that batik is exist in Indonesia throughout the islands and even in the world. The differences is in about the processes of making, the motives, the tools, and the color, each has own character and very much depend on the culture. Batik itsef is a way to draw pictures on the fabric which not only needs skills to do it but also patients. It can takes months to finish just one piece of batik, and its designed should be very thoughtful and full of meaning. That is why we need to appreciate batik, at least we know that Batik is an intangible heritage of humanity in the world.

>Tanggal 2 oktober diperingati sebagai Hari Batik di Indonesia sebagai perayaan sekaligus untuk memperingati hari ketika UNESCO mengakui batik untuk masuk dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia pada tahun 2009. Hal ini patut dikethui dunia dan terutama lagi oleh masyarakat Indonesia sendiri karena batik sangat berharga. Batik tidak hanya melambangkan budaya dan keindahan tetapi juga memiliki sejarah panjang atas peradaban dan falsafah hidup manusia. Sebagian orang mungkin masih menolak mengakuinya karena dianggap hanya sebagai warisan dari budaya Jawa, namun sebenarnya batik ada di seluruh Indonesia dan bahkan dunia. Perbedaannya ada pada cara pembuatan, motif, peralatannya, pewarnaannya, semua memiliki karakter masing-masing dan sangat tergantung pada budaya. Batik sendiri merupakan cara menggambar di atas kain yang tidak hanya membutuhkan ketrampilan tetapi juga kesabaran. Bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk bisa menyelesaikan sepotong kain batik, dan setiap desainnya harus dipikirkan baik-baik serta memiliki arti. Itulah sebabnya mengapa kita harus menghargai batik, paling tidak kita tahu bahwa batik adalah merupakan warisan yang sangat berarti bagi dunia.

@mariska.lubis

Hong Bird Batik – Batik Burung Hong (https://steemit.com/indonesia/@mariska.lubis/batik-doodle-indonesia-6-hong-bird-bilingual)

Continue reading Happy Batik Day! Selamat Hari Batik! (Bilingual)

Benarkah Kita Berada Pada Titik Nadir Kehidupan?

Jika kita melihat keadaan saat ini, segala sesuatunya menjadi simpang siur dan tidak lagi ada kejelasan apalagi kepastian. Ilmu filsafat dan ilmu pengetahuan tidak lagi digunakan untuk mencari kebenaran, hanya digunakan seperti untaian kata-kata yang indah semata. Kata-kata itu sendiri pun bukan untuk menjadi jalan mencari kebenaran, tetapi untuk dijadikan objek perdebatan yang pada akhirnya semuanya menjadi begitu berlebihan. Sementara ketika semua sudah berlebihan dan ekstrim, maka jalan lebar itu begitu terbuka, bukan untuk menjadi lebih maju melainkan justru menuju pada titik nadir kehidupan. Apakah benar memang kita semua sesungguhnya sedang berjalan pada kematian dan kehancuran?!

“Apa yang ada di balik semua yang terlihat oleh mata”? – @mariska.lubis

Percakapan antara saya dan putra sulung saya @marranarayan menjadi sangat menarik untuk dipikirkan lebih lanjut. Kami membicarakan betapa kami sekeluarga tidak ada yang “galur murni”, bahkan untuk menyebutkan kami ini berasal dari suku apapun tidak bisa, kami hanya bisa menyebut kami adalah “orang Indonesia’, yang lahir di kota Bandung, Jawa Barat. Sementara bila melihat sejarah dari leluhur saya saja pun, semuanya sudah merantau dan beradaptasi bahkan “berkembang biak” dengan berbagai suku bangsa dan etnis di dunia ini. Bisa dibilang, kami sangat beruntung, karena kami tidak perlu harus menjadi seseorang yang begitu ekstrem memandang diri sendiri hanya berdasarkan kaca-mata kesukuan atau etnis semata, tetapi menjadi anugerah karena kami menjadi bisa lebih menerima keragaman dan perbedaan yang ada, yang semuanya merupakan rahmat anugerah, di mana semua selalu ada kebaikan dan kekurangannya.

Continue reading Benarkah Kita Berada Pada Titik Nadir Kehidupan?

Pemikiran Yang Salah Kaprah Namun Membudaya Haruskah Dipertahankan Dengan Alasan Budaya?

Sudah terlalu sering saya mendengar budaya menjadi alasan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah atau kurang tepat. Budaya dijadikan tameng, dan apa kata orang itu menjadi lebih penting dari kebenaran terima dan mau dibilang bodoh. Mau dibilang pintar pun, kenapa tidak juga berpikir lebih maju agar budaya yang salah itu diubah menjadi yang benar? Apakah memang semua budaya itu sudah pasti benar hanya karena sudah menjadi budaya yang dibenarkan dan bahkan diyakini banyak orang? Bagaimana bila budaya itu sendiri sudah bertentangan dengan ajaran agama yang katanya diyakini dan diimani, bahkan diikuti sebaik mungkin, apakah tetap harus dipertahankan?

@mariska.lubis

Sudah bukan satu dua orang lagi pasangan muda yang bercerita kepada saya bagaimana mereka sulit untuk menikah, karena mereka belum sanggup memenuhi segala persyaratan yang diberikan oleh orang tua mereka. Persayaratan itu sebenarnya bukan persyaratan utama yang memang diwajibkan dalam agama, namun lebih kepada karena budaya yang dilakukan oleh kebanyakan orang dan dibenarkan. Antara lain adalah pesta pernikahan yang memakan biaya banyak, dan seringkali membuat pasangan baru menikah terjebak dengan hutang justru pada saat baru saja memulai membangun rumah tangga.

Continue reading Pemikiran Yang Salah Kaprah Namun Membudaya Haruskah Dipertahankan Dengan Alasan Budaya?