Misteri Perempuan Bercadar Anti Peluru Dan Kaki Penuh Tato – Kisah Pengalaman Pribadi Aksi Kedaulatan Rakyat (2)

Geger video yang menampilkan sosok seorang perempuan bercadar berjalan sendirian ke tengah jalan dan banyak yang terkagum-kagum melihatnya, termasuk saya. Namun saya teringat dengan sosok perempuan yang saya lihat di seputar Gedung Sarinah sore harinya, hati saya berbisik, “Ada yang janggal dengan perempuan itu”. Gayanya dan bawaan yang dibawanya terlalu berlebihan. Saat lompat pagar masuk ke dalam halaman gedung pun, karena semua akses ditutup,  kawan saya bertanya, “Kok bercadar tapi kenapa kakinya yang tersingkap saat menaiki pagar, kok penuh tato?”. Orang yang samakah?!

Saya sangat kagum dengan emak-emak yang turut dalam aksi Kedaulatan rakyat 21-22 Mei di depan Bawaslu, nyalinya benar-benar harus diacungi jempol. Tak sedikit yang masuk ke ring 1 area aksi dan mereka berani memberikan bunga dan berbincang dengan polisi Brimob di sana, meski harus merasakan tekanan yang ada. Saya  sempat khawatir juga mengingat banyak yang sudah tidak muda lagi dan  sepertinya  kurang fit bila harus berlari dan jalan jauh, sementara emosi  sulit dikendalikan.

Seperti emak-emak yang ada di teras dan  pelataran parkir Gedung Sarinah pada tanggal 21 Mei lalu. Mereka datang dari mana-mana, ada yang jauh dari BSD, Serang, Tegal, Malang, Bandung, Bogor, dan lain-lain yang tentunya membuat kondisi fisik  capek dan letih. Saya sengaja mengajak mereka berbincang, sekaligus silaturahmi, apalagi saya juga harus awasi rombongan emak-emak alumni SMANDEL Jakarta yang datang bersama saya, dan semuanya di atas saya jauh. Berhubung yang paling muda, ya saya harus tahu dirilah. Kalau  ada yang dibutuhkan, saya masih sanggup berlari.

Kami berhadapan langsung dengan pasukan Brimob yang berjejer dengan tameng mereka, dan tidak peduli. Ada emak-emak yang terpeleset di tangga pun mereka acuhkan, padahal ada di depan mata, sejauh tangan  mereka. Saya kesal juga melihatnya., lagipula n menurut saya, tidak ada guna mereka masuk ke dalam, untuk apa? Apa yang mau mereka lakukan di dalam? Wajar jika banyak emak-emak yang terpancing emosi dan mulai bicara nada tinggi dan tak sedap didengar telinga. Ada yang bertolak pinggang dan mulai mencoba mendorong tameng polisi dan meminta tameng mereka diturunkan. Saya sempat memberikan arahan, “Bu, jangan pancing mereka! Diam sajalah! Biarkan mereka apa maunya!”.

Saya putuskan naik ke atas  untuk  melihat situasi dari atas agar lebih jelas. Beruntung saya berjumpa dengan banyak TNI dari Kodam yang membangun barak di atas dan saya agak tenang. Beberapa orang TNI akhirnya turun dan berdiri di antara polisi dan emak-emak. Lega rasanya! Saya yakin TNI ada di pihak yang sama, dan mereka tidak akan turun bila tidak ada pancingan kerusuhan. Berbeda mereka dengan para Brimob yang ada di sana. Saya lebih banyak di atas pada akhirnya, saya pikir lebih baik agar ada yang bisa memantau lebih jelas, kalau di bawah pemandangan terbatas karena banyak orang.

Kembali ke soal perempuan bercadar tadi, saya sempat melihatnya lagi berjalan ke samping kanan gedung dengan segala barang bawaannya, repot sekali melihatnya pun. Saya tidak perhatikan lebih jauh, namun ketika beredar info bahwa ternyata perempuan bercadar yang misterius itu adalah hanya sedang akting saja,saya tidak heran. Perempuan sangat mudah dijadikan alat  kepentingan pada saat dan situasi demikian, dan karena banyak emak-emak yang bernyali,  jika tidak hati-hati akan sangat mudah disusupi.

Perempuan Indonesia memang keren dan kuat, tak perlu teriak soal emansipasi pun  sudah sangat kuat karena fitrahnya. Perempuan Indonesia harus terus berjuang bagi perubahan dan masa depan yang lebih baik. Biarkan  saja perempuan-perempuan cengeng itu terus merengek, merajuk hanya untuk uang dan kekuasaan. Misteri kehebatan perempuan Indonesia adalah misteri Allah yang jauh lebih dahsyat dibandingkan perempuan bercadar yang hanya pura-pura hebat! Nggak usah bertato pun lebih sangar, deh!!!

Merdeka!!! Allahu Akbar!!!

 

Bandung, 24 Mei 2019

16:29 WIB

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

 

 

 

 

 

Hati Kami Pun Harus Dipisahkan Posisi Dan Kondisi – Kisah Pengalaman Pribadi Aksi Kedaulatan Rakyat (1)

Jantung berdegup kencang ketika seorang anggota Brimob yang menjaga Aksi Kedaulatan Rakyat di lapangan parkir Gedung Sarinah, depan Kantor Bawaslu tanggal 22 Mei 2019 lalu,  memanggil saya. “Kak Mariska! Pue haba, Kak? Kapan kakak ke Aceh lagi? Masih ingat saya, Kak?” katanya sambil tersenyum ramah sekali. Hati saya terguncang melihatnya, rasanya ingin menangis, mengingat pada saat itu kami dalam posisi dan kondisi yang berbeda. Saya tidak ingat dia siapa, namun saya dapat membayangkan semua  cerita indah yang saya dapatkan selama saya bolak-balik Aceh dan berjumpa banyak sekali orang. Sedih kami berjumpa lagi di Jakarta justru harus dalam posisi berlawanan. Ada perih yang menusuk hati saya.

Begitu pun ketika sebelumnya saya menghampiri pagar gedung untuk melihat situasi dan keadaan di Jalan Thamrin yang dipenuhi  pasukan Brimob di hadapan mata sementara para peserta aksi ramai sekali di sebelah kanan dan belakang saya. tahu sebelumnya oleh kawan, bahwa  pasukan Brimob yang menjaga hari itu adalah kiriman dari Aceh.  Saya agak terkejut, apalagi hari itu adalah Hari ke-17 Ramadhan, dan saya yakin para  anggota Brimob di sana yang dari Aceh ikut berpuasa juga. Salah seorang dari mereka menyapa saya, “Saya tahu Kakak. Kakak penulis yang dikenal dan banyak menulis di Aceh. Wajah kakak banyak yang kenal”.

Saya langsung mengajaknya berbincang ringan. “Sejak kapan dikirim ke  Jakarta, dik?”.

“Sebulan lebihlah, Kak”, jawabnya.

“Kamu pasti kuat, karena panas di sini tak sepanas di Aceh, ya?”.

“Ya Kak, tapi saya puasa Kak”.

Saya bisa membayangkan bagaimana beratnya dia, harus berpuasa menjalankan ibadahnya, namun di sisi lain, dia juga harus mematuhi perintah atasannya pan dengan saudara-saudaranya  sendiri yang seiman dan setanah air. Saya berharap saat itu, semoga tidak terjadi peristiwa yang lebih buruk dari malam sebelumnya. Hari sebelumnya, tempat saya berdiri yang sama, saya dapat menyaksikan pasukan Brimob yang berjaga banyak yang tidak berpuasa. Dalam benak saya, masih terbayang  pasukan yang bersiap seolah hendak perang di hadapan mata, justru pada saat rakyat yang melakukan aksi masih sedang  shalat tarawih bersama. Dan kejadian tidak dapat dihindarkan, benar setelah shalat baru saja selesai, rakyat yang beraksi damai harus berhadapan dengan mereka. Saat itu, saya hanya berharap semoga puasa bisa membantu menjernihkan hati dan pikiran, sehingga  mampu memilah mana yang lebih prioritas untuk dibela.

Sebelum saya pergi, saya sempat menggodanya, “Pulang kita nanti yah! Jangan lewatkan  meugang!”. (meugang, adat budaya Aceh memasak dan makan bersama.)

Dia dan kawan-kawan di sampingnya yang masih duduk di bawah pohon di atas trotoar pun tersenyum, “Hari Raya, ya Kak!”.

Alangkah mirisnya hati, ketika baru saja buka puasa dan selesai shalat magrib, saya mendengar suara riuh rendah dan melihat banyak orang berlarian. Ibu-ibu yang berlari melintas di depan saya menyuruh saya pergi dan menghindar. Kebetulan saya dan anak saya sedang berada di samping gereja Theresia yang berada di belakang Gedung Sarinah, kami memang duduk di sana dari sebelum buka untuk mencari signal internet yang sepertinya sengaja diblokir di area Gedung Sarinah, sehingga sulit berkomunikasi. Apalagi sebelumnya sudah ada pengumuman  bahwa medsos akan diblokir  juga mulai pukul 18-20 WIB, saya harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya agar bisa terus berhubungan dengan banyak orang di luar area, memberi tahu sitasi dan kondisi terkini. Shalat magrib pun saya menumpang di mushala sebuah cafe yang ada di seberang jalan.

Saya tidak habis pikir, bagaimana orang bisa berbuka puasa dengan cara melakukan kekerasan terhadap saudara seiman dan setanah air,  pada rakyat yang seharusnya dibela dan dilindungi serta dilayani dan diprioritaskan haknya. Tidak ada waktu dan kesempatan diberikan untuk shalat isya dan tarawih bersama kembali, dan entah apakah perintah atasan lebih penting daripada perintah Allah, sehingga mereka pun  tak melakukan ibadah shalat sebagaimana semestinya. Hingga malam, keadaan semakin memburuk., banyak ambulance  melintas kencang di hadapan saya membawa korban. Hingga larut malam, saya pergi sekitar pukul 1 dini hari, keadaan masih berantakan sekali. Massa masih banyak dan korban pun semakin banyak yang berjatuhan akibat gas air mata dan entah lainnya.

Sepanjang  malam saya tidak bisa tidur nyenyak walau badan sangat letih. Hati saya masih terluka. Mengapa hati kami harus terpisah hanya karena situasi dan kondisi? Apakah benar bahwa hati itu memang sudah tak ada lagi hanya karena urusan  uang dan jabatan? Apakah memang Allah itu dianggap tidak lagi ada, dan atasan yang hanya manusia biasa  jauh lebih ditakuti? Entahlah.

Semoga Allah memberikan hidayah bagi mereka yang sudah kehilangan hatinya.

 

Bandung, 24 Mei 2019

02:38 WIB

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

 

 

 

Keledai Durjana Memang Tak Memiliki Kemaluan

Sudah suaranya parau, teriaknya kencang dan kasar pula, tidak juga memiliki rasa malu. Kerjanya hanya membuat malu, mempermalukan, dan menunjuk jari untuk menutupi semua kemaluannya yang sudah hilang. Tidak ada setitik pun kemaluan yang tersisa, walau merasa otak masih dimiliki. Padahal, otak yang sudah berantakan itu tidak ada isinya lagi jika tidak memiliki kemaluan sama sekali. Semua yang dipikirkan dan diucapkan hanyalah menjadi fatamorgana keledai pemimpi di siang bolong yang membuatnya menjadi durjana.

Mengikuti apa yang dilakukan para keledai ini pernah membuat saya marah, namun kini sudah tidak ada lagi marah yang tersisa. Saya hanya tertawa dan tersenyum saja menyaksikan setiap tingkah polah dan kata-kata yang mereka ucapkan. Biarlah saya dibilang sombong sekalipun, tetapi memang tidak ada gunanya menanggapi mereka, keledai memang bukan kuda. Tidak perlu dibandingkan, karena memang tidak sebanding, apalagi para keledai durjana yang sudah tak berkemaluan itu.

Continue reading Keledai Durjana Memang Tak Memiliki Kemaluan

Ketika Dungu Itu Bukan Lagi Fiksi

Setiap kali dengar kata dungu, saya jadi selalu teringat dengan sebuah literatur drama yang dibuat oleh seorang penulis Yunani di masa lalu, bernama Euripides. Drama itu berjudul “The Bacchae/The Bakkai” yang menceritakan tentang sebuah tragedi yang terjadi di kerajaan, di mana raja dan ibunya mendapatkan hukuman dari dewa karena tidak mau menyembah dewa tersebut. Ada sebuah quote dari drama ini yang terkenal, “Talk sense to a fool and he calls you a foolish” dan menurut saya ini adalah sebuah fakta, bukan sekedar sebuah pernyataan fiksi walaupun berdasarkan dari imajinasi yang menghasilkan pemikiran dan dituangkan lewat kata-kata. 

 

“Siapa yang paling pandai memainkan boneka keledai?”

Sumber gambar: http://www.doitecofashionshow.com/-stupid-donkey-design-plush-hand-puppet

Continue reading Ketika Dungu Itu Bukan Lagi Fiksi

Kapan Bully Di Sekolah Mampu Dihentikan?

Kemarin dua anak saya yang terkecil menangis karena mereka dibully oleh teman-teman mereka di sekolah. Ini bukan yang pertama kalinya terjadi terhadap mereka yang bersekolah di SD Sukarasa 196, KPAD Gegerkalong, Bandung. Sudah sering mereka harus menghadapi bully dan kata-kata kasar yang tidak pantas dilakukan oleh siswa sekolah, apalagi mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, tentunya sulit untuk diatasi oleh guru dan pihak sekolah, sebab apa yang terjadi sudah merupakan rantai dari pendidikan yang salah di rumah dan lingkungan, termasuk yang dilakukan lewat media dan oleh banyak orang. Jika hal ini terus dianggap sepele dan diabaikan, terutama oleh para orang tua serta seluruh masyarakat Indonesia, maka jangan harap kita menjadi negara maju dan berkembang, tetapi akan terus jatuh terperosok dan hancur.

Sebelumnya, mereka bersekolah di SD Isola, juga di Gegerkalong dan saya sengaja memasukkan mereka ke sekolah “rakyat” karena saya ingin mereka benar-benar bisa merakyat. Soal mutu dan kualitas pendidikan, bagi saya sama saja di mana-mana, sangat tergantung kepada cara orang tua mendidik anaknya masing-masing saja. Sekolah mahal dan terkenal pun sudah terbukti tidak mampu menghasilkan manusia-manusia yang bisa memberikan banyak guna dan manfaat serta perubahan yang lebih baik bagi bangsa, negara, dan dunia. Jika hanya soal kemudahan mendapatkan pekerjaan, makan, kedudukan, jabatan, dan kekayaan, itu hanyalah urusan survival dalam kehidupan yang dilakukan oleh seluruh makhluk hidup. Manusia pun sama bisa demikian, karena manusia juga adalah mamalia, namun manusia memiliki kelebihan lain yang membuat manusia bisa berpikir dan memiliki ilmu pengetahuan, lebih dari hanya sekedar untuk menjadi mamalia.

Continue reading Kapan Bully Di Sekolah Mampu Dihentikan?

Pemikiran Yang Salah Kaprah Namun Membudaya Haruskah Dipertahankan Dengan Alasan Budaya?

Sudah terlalu sering saya mendengar budaya menjadi alasan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah atau kurang tepat. Budaya dijadikan tameng, dan apa kata orang itu menjadi lebih penting dari kebenaran terima dan mau dibilang bodoh. Mau dibilang pintar pun, kenapa tidak juga berpikir lebih maju agar budaya yang salah itu diubah menjadi yang benar? Apakah memang semua budaya itu sudah pasti benar hanya karena sudah menjadi budaya yang dibenarkan dan bahkan diyakini banyak orang? Bagaimana bila budaya itu sendiri sudah bertentangan dengan ajaran agama yang katanya diyakini dan diimani, bahkan diikuti sebaik mungkin, apakah tetap harus dipertahankan?

@mariska.lubis

Sudah bukan satu dua orang lagi pasangan muda yang bercerita kepada saya bagaimana mereka sulit untuk menikah, karena mereka belum sanggup memenuhi segala persyaratan yang diberikan oleh orang tua mereka. Persayaratan itu sebenarnya bukan persyaratan utama yang memang diwajibkan dalam agama, namun lebih kepada karena budaya yang dilakukan oleh kebanyakan orang dan dibenarkan. Antara lain adalah pesta pernikahan yang memakan biaya banyak, dan seringkali membuat pasangan baru menikah terjebak dengan hutang justru pada saat baru saja memulai membangun rumah tangga.

Continue reading Pemikiran Yang Salah Kaprah Namun Membudaya Haruskah Dipertahankan Dengan Alasan Budaya?

Teruntuk Para Perempuan Cantik Ibu Pertiwi

Seorang perempuan cantik berjalan anggun gemulai menelusuri jalan, melewati para pria bermata terbelalak dan jantung berdegup menikmati keindahan yang ada di depan mata mereka. Tanpa ada rasa takut ataupun ragu, perempuan cantik itu terus berjalan, mengabaikan semua pandangan mata yang tertuju padanya. Dia tahu persis bagaimana kecantikan dan daya tariknya bisa membuat jungkir balik dunia semua pria, sehingga dia tidak perlu harus membuktikannya hanya untuk dipuja dan dipuji. Waktu percuma terbuang hanya untuk meladeni para pria itu, ada banyak yang lebih penting yang bisa dilakukannya. Semua kecantikan dan daya tariknya itu, bukan hanya untuk dipuja dan dipuji, tetapi bisa digunakan sebaik-baiknya untuk memberikan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi semua.

Ada yang iri hati dan merasa tersaingi oleh kehadirannya, bahkan tak sedikit yang merasa cemburu. Tidak ada satu pun yang membuatnya harus menjadi takut dan kemudian kehilangan arah di dalam mencapai tujuannya. Ibarat anjing menggonggong, kafilah berlalu. Untuk apa ambil pusing dengan perkataan orang lain bila tidak ada satupun manusia di dunia ini yang pasti tahu dan benar? Sungguh merugi bila lebih memilih mengikuti kata orang dan mengikuti apa yang diinginkan mereka, bila ada kebenaran yang sejatinya diyakini dengan sepenuh hati. Apa bedanya dengan menduakan Yang Maha Benar bila kebenaran itu diabaikan dan kata oranglah yang lebih diutamakan?!

Continue reading Teruntuk Para Perempuan Cantik Ibu Pertiwi

Ah, Senangnya Nostalgia Bersama Blogger Di Masa Itu…

Waktu berlalu dengan sedemikian cepatnya, tidak terasa banyak sekali yang terlewatkan. Sejak berjumpa dengan seorang kawan lama secara tak sengaja di Jakarta, lalu berlanjut di Bandung, jadi teringat lagi dengan masa-masa lucu ketika baru masuk ke dunia blog. Ada yang sudah tidak lagi bisa bersama, tetapi masih banyak kenangan indah yang tidak mungkin saya lupakan begitu saja. Apalagi sekarang masih ada yang bersama, bergabung di Steemit juga, seperti Bang @rismanrachman, @syamar, @acehpungo, @jodhiyudhono, dan @diankelana, rasanya menyenangkan sekali.

Kenangan bersama kompasianer di masa lalu ketika berkumpul di Taman Izmail Marzuki. Komik ini dibuat oleh @babehhelmi.

Saya masih ingat sekitar tahun 2009 saya mulai menulis di blog Kompasiana, dan mulai membagikan tulisan saya di Facebook dan kemudian juga di Twitter. Saya pun memiliki beberapa blog pribadi di wordpress (http://bilikml.wordpress.com yang masih ada), juga beberapa akun Fans Page. Rasanya senang sekali bisa menulis bebas tanpa harus ada banyak aturan seperti menulis di media massa. Kita bisa menjadi diri sendiri dan tidak perlu takut menulis sesuai dengan jiwa dan pribadi kita, topiknya pun sesuai dengan keahlian dan minat masing-masing, sehingga blog membuat saya merasa sangat nyaman.

Boleh dibilang, masa-masa awal dikenalnya blog dan jejaring sosial di Indonesia menjadi sangat menyenangkan. Kita bisa berkenalan dan berjumpa dengan banyak orang, saling berbagi dan menjalin silaturahmi. Kalaupun ada beda pendapat, itu sudah biasa, namun tidak berarti kemudian kami harus saling membenci dan saling menghina, setiap orang bebas dengan pemikiran dan pendapat masing-masing. Malah kami pun bisa menjadi sangat akrab satu sama lain dan hingga kini, walaupun kami sempat terputus hubungan karena satu dan lain hal, kami tetap merasa bahagia bila bisa berjumpa lagi dan terus berkomunikasi dengan baik.

Continue reading Ah, Senangnya Nostalgia Bersama Blogger Di Masa Itu…

Bilakah Merdeka Itu Ada?

Terkadang saya jadi termenung sendiri jika memikirkan soal kemerdekaan. Rasanya jenuh dan bosan sekali dengan segala kemerdekaan semu yang terus dikumandangkan dan diyakini pula oleh banyak orang. Barangkali saya saja yang benar aneh cara berpikirnya, saya tidak pernah bisa melihat kemerdekaan selama jiwa-jiwa yang ada di hadapan saya masih terkurung oleh penjajahan dalam bentuk pembodohan yang sudah begitu mengakar. Pembodohan bukan arti tidak mengecap pendidikan formal, bahkan sudah pendidikan sangat tinggi pun masih terkurung dalam kebodohan akibat mau saja dibodohi, kok! Kapan merdeka itu ada sebenarnya?

Lomba Panjat Pohon Pisang

Jujur saja saya sempat frustasi juga dengan keadaan bangsa dan negara, juga dunia ini. Rasanya gemas sekali dan ingin berteriak sekeras-kerasnya membangunkan semua untuk segera bangun dan tersadar, jangan mau terus terlena dengan semua ini. Lupakan apa yang sudah menjadi keyakinan umum dan yang sudah dibuat seperti sedemikian rupa nampak benar, tetapi carilah sendiri kebenaran lewat hati dan pikiran yang lebih terbuka dan tak terbatas. Namun, tidak mungkin saya melakukannya, karena tidak akan pernah bisa tercapai semua itu, jika saya masih bersikap demikian. Betapapun besarnya keinginan untuk membantu dan memperbaiki dunia, negara, teman, bahkan keluarga dan teman dekat sendiri, tidak akan pernah terjadi bila kitanya sendiri tetap terjebak dengan segala unsur negatif dari rasa benci, marah, kesal, dan frustasi itu. Saya harus bisa merdeka dulu, jika saya ingin membuat orang juga merasakan kemerdekaan. Tidak ada gunanya berteriak merdeka bila masih tertindas bahkan oleh diri sendiri, percuma!

Coba kita lihat bagaimana diri kita sendiri di cermin, dan akuilah apa semua yang buruk dari diri kita sendiri, beranikah? Kita yang teriak kemerdekaan masih juga menindas orang lain, masih tidak berani untuk menerima perbedaan, dan terus memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Kita yang selalu minta dimengerti, tidak pernah mau mengerti walaupun selalu merasa sangat mengerti dan paling mengerti. Anak sendiri pun dipaksakan untuk mengikuti ambisi dan kemauan kita, tanpa pernah bisa merdeka menerima bahwa anak adalah manusia yang juga berhak mendapatkan kemerdekaannya. Anak hanyalah titipan Allah yang bukan milik kita. Sayang anak, bukan berarti menuntut anak untuk menjadi seperti yang kita inginkan, tetapi justru seharusnya membuat mereka menjadi diri mereka sendiri, siap menjadi seorang yang memiliki kepribadian dan bertanggungjawab pada diri mereka sendiri.

Lomba Makan Kerupuk

Continue reading Bilakah Merdeka Itu Ada?

After 44 Years Living In This World (Bilingual)

Today is my 44th birthday and I think this is the right time for me as well to think about what I did before and what should I do next. It is my aim to give all that I have to be as useful as possible for others and this world. That is actually my pray to God everyday and every time I pray. This is not because I am a good person, but I feel that I have to do my best to be as human as possible, it is such a bless to have opportunity to be born as human. I believe the purpose of our existence in this world is nothing but to be as useful as possible for others and this world.

When I was just a little girl with my parents and younger brother.

I don’t know how to describe myself nor my profession. I was studying in a lot of different fields, from economics, science, philosophy, math, to politics. I am working in different fields as well, I am a mother of four lovely children, professional writer, artist, teacher, businesswoman, and consultant. I work with different people, community, and for different purposes as well, and they have their own labels for me. I don’t even know how to describe my self in terms of originality, I have so much different bloods running in me. I could never say, I am Sundanese, Mandailing, Acehnesse, Chinese-Indonesia, or other, I could only say that I am Indonesian. I describe myself as salad, you can put any kind of spices and dressing with it, and turn out to be with different names, but I am still salad anyway.

There are so many things happened in my life, not all are good but I am so grateful about it. I know how it feels being so rich and poor, being on the top of the mountain and deep under the sea, being alone and surrounded by so many people, being unknown and famous, I have been there. All my life, I think since I was born, I live in different “worlds”, like heaven and earth. That is probably the reasons I always feel that I have to know more and more, educate myself to be as flexible as possible, accept everything and every situations, the most important I always very hard to teach myself to be patient and understand. It is not easy to understand others since we all tend to ask others to understand us more than trying to understand others.

I have to admit that I have a lot of problems with politics and all the regimes in my country. For most people, perhaps they don’t like or suffer from certain regimes only, but hey, I have problems with them all. I like my freedom to think and though I know it will be very much contradict or different, some of my friends said that I am too far and beyond when I think, but still I can’t help it. I know exactly how it feels being in prison and had nothing left, I know how it feels being threaten to death, so for me, I am just grateful that I am still alive at the moment. I don’t see it as something that I have to regret or I have to feel sad about it, but for me, it is just a process of learning that make me have to always think and learn. I don’t want to waste my time for nothing useful and being too much, I never like hyerbolic drama. For me, we are just like a grain of sand that pushed away from the sea when we are ready to be free with the sun and the moon, or being pulled away to the deepest sea when we do not know how to get our own freedom.

Me on the right with Kebaya.

That is why I am very happy when I was introduced to Steem by one of my dearest long time best friend @rismanrachman. He dragged me to this community and made me learn more about blockchain. He said because he knew that I would feel comfortable and would learn a lot, will do everything to make sure that my aims will be fulfilled with this new technology. He knows that I don’t want to complain or even to touch the “politics’ anymore, but deep down in my heart, I can’t leave it just like that. With blockchain, I can do a lot, not just talking and complaining too much. I can do a lot more better since I can be that independent, all I need is myself. I have to know exactly what I have to do and always being together to create a real changes in this world. I could never be able to do it myself and blockchain give me the opportunity to do what I want together with all people who really have the same thinking as mind, to make this world much better, so we all could have a better future.

There are so many programs on my head, I and some of my friends in here are building @nusantaraxchange to exchange Steem/SBD direct to our currency, I am planning a lot of national and regional events, publish my books and others books, a lot of community programs such as Rubbish Bank development, but well, I have to do it step by step. I am glad I can be part of Indonesia Steemit Community, @sndbox, @ocd, @promo-steem, @oracle-d, @promo-mentors, @celfmagazine, and hopefully I can be with more community. One think that I realize a lot that not all people are not aware or really sure about what is going on and what they are suppose to do. Not all people are willing to open their eyes, minds, and hearts for others and for the future. Not all people are even willing to learn, to read, to listen, they prefer to stay in traditional or primordial ways of thinking. It is allright, it is their choice, but they will not stop me to move on and get what we actually really need. This is the real challenge that I have to face on Steem and blockchain.

Hence, for those who are truly my readers from a long time ago will realize that what I wrote on Steem are totally different than what I used to write. I don’t have a chance to write something that really “Mariska Lubis’. Most of my writings in here are example and guidance for others to learn how to write and to learn more about blockchain and cryptocurrency. I can’t explain one by one and on and on, but they could read and learn from the way I write. This is not only for Steem actually, but as a teacher, I want all to learn to be as professional as possible in their fields and at anywhere. Of course it takes times and have to be very patient and consistent, but time will come to proof that it’s all worth it. It is useless to have high rewards and reputations if they never be able to develop themselves, in terms of working and especially way of thinking which reflceted very much from their posts and behaviours. Lies and manipulative are not the best thing to do in blockchain.

Image result for 1st KSI national meetup

I innitiate 1st KSI National Meet Up in Indonesia. Source: https://steemit.com/meetup/@mariska.lubis/press-release-1st-ksi-national-meet-up-bandung-16-februari-2018.

I hope we can do a lot together to make something that really useful for this world. We can’t wait for magic to change everything to be better, we have to do something. I don’t expect that all could understand what I am trying to say, I don’t ask everybody to understand as well. What I ask is just to always think further, don’t be too late to regret everything later on.

This is for me, on my 44th birthday, and I did it. May God bless give us a chance to be and to do better.

Note: This post is written also for @sndbox challege

Bandung, August 6th, 2018

Warm Regards

Mariska Lubis

Continue reading After 44 Years Living In This World (Bilingual)