Sadar

Senyawa fajar membawa pagi

Awan berkerumun di tepian hari

Ayam berkokok bukan tanpa arti

Ada diri yang menyadari

 

Tetesan air pun datang membawa pesan

Teduh temaran bias kelabu terasa kelu

Singa lapar berlari kencang mencari makan

Kehormatan dan harga diri digadai tanpa malu

Seonggok berllian menggoda perempuan

Tumpukan kekuasaan merayu para lelaki

Siapa yang mampu bertahan?

Terlalu banyak alasan untuk mengingkari

Cukup sudah, waktu terus berlalu

Tumpukan puing masih bisa bernilai

Biarkan mereka pergi seperti angin lalu

Apalah hidup bila tidak ada ikhlas dalam memberi

Bandung, 26 November 2018

13:12 WIB

Mariska Lubis

 

 

 

 

Sekedar Catatan Malam 22/11/2018 02.11 WIB

Malam masih berkabut setelah hujan lebat sejak sore tadi. Seekor tikus besar menatap penuh harap, seolah meminta agar diijinkan untuk masuk ke dalam rumah. Meskipun tidak suka, tapi tidak apalah, kasihan juga. Barangkali dia lapar atau kedinginan, berbagi sedikit dengannya tidak akan membuat saya mati kelaparan atau susah. Namanya juga tikus, binatang mamalia, dia hanya bisa berusaha untuk bisa tetap bertahan hidup dan meneruskan keturunannya.

Lain lagi dengan tanaman yang juga ada di depan mata. Mereka tidak menampakkan susah sama sekali walaupun pagi sampai siang tersengat matahari dan lalu tiba-tiba diguyur hujan sepanjang sore hinggga malam. Bunga-bunga yang menyembul di antara dedaunan itu, malah sepertinya semakin segar dan cantik. Apakah mereka tidak merasa kedinginan, ya? Mungkin mereka punya energy yang lebih banyak karena tidak memiliki kemampuan untuk berpikir dan memilih, apalagi untuk memiliki kemampuan untuk belajar. Sama sebenarnya dengan tikus tadi, mereka hanya berdasarkan naluri dan kepasrahan saja, yang penting bisa hidup dan terus berkembang biak. Sementara manusia, lain lagi ceritanya.

Kemarin saya terkejut dengan pertanyaan seseorang yang berkata bahwa dia menulis untuk uang. “Tidak usah munafik, saya menulis karena uang,” katanya. Saya tidak mempermasalahkan hal ini, karena kebanyakan orang memang berpikir bahwa yang nomor satu adalah uang karena jelas uang dibutuhkan untuk  memenuhi kebutuhan hidup. Banyak juga yang memang menggunakan kemampuannya menulis sebagai profesi yang menghasilkan pendapatan, seperti para wartawan, buzzer, dan lain sebagainya. Namun saya pikir, rasanya aneh juga kalau yang dipikirkan hanya soal uangnya saja, tetapi tidak dipikirkan bagaimana pengaruh atas tulisan dan segala perbuatan yang dilakukan karena berpikir tentang uang semata. Bagi saya, ini tidak ada bedanya dengan tikus dan tanaman tadi, pikirnya hanya untuk bertahan hidup saja, tidak lebih dari itu. Untuk berpikir bahwa bertahan hidup saja seharusnya ada banyak hal penting lain yang perlu dipikirkan. Contoh, jika menulis hanya untuk uang dan melakukan plagiat begitu saja, apakah tidak merasa sudah merugikan orang lain?!

Continue reading Sekedar Catatan Malam 22/11/2018 02.11 WIB

Indonesian Woman Doodle (Bilingual)

It has been a while I didn’t post any of my drawing, and tonight I feel like I want to post it. In the afternoon I had time for myself in a while and I used it to draw an Indonesian woman in doodle (again). I had a series about this Indonesian woman doodle, and this one I made today.

Sudah lama juga saya tidak posting gambar dan malam ini saya merasa ingin melakukan nya. Tadi siang saya ada sedikit waktu untuk diri saya sendiri dan saya gunakan untuk menggambar doodle perempuan Indonesia (lagi). Saya punya seri gambar doodle perempuan Indonesia dan yang satu ini saya buat hari ini.

image

Indonesian women are very sexy and exotic according to my opinion, especially when they are wearing traditional clothes or costumes. Not because I am Indonesian woman and I love traditional clothes, but for me it is nice to see someone with personality that represent their identity. Traditional clothes and costumes are showing the identity of Indonesian which all Indonesian should be proud of it. It is a bless that everyone should realize, we all are born with our own identity.

Perempuan Indonesia sangat seksi dan eksotis menurut saya, apalagi kalau mengenakan pakaian atau kostum traditional. Bukan karena saya seorang perempuan Indonesia yang suka pakaian tradisional Indonesia, tetapi bagi saya sangat penting dan menyenangkan bila melihat seseorang memiliki kepribadian yang menunjukkan identitas diri. Pakaian dan kostum traditional merupakan salah satu identitas Indonesia yang seharusnya dibanggakan oleh seluruh orang Indonesia seharusnya merasa bangga. Semua itu adalah anugerah yang sepatutnya disyukuri karena kita semua terlahir dengan identitas masing-masing.

 

I used pencil and two kinds of black markers to make this doodle. This is the process of making:

Saya menggunakan pensil dan dua jenis spidol hitam untuk membuat doodle ini. Inilah proses pembuatannya:

image

image

image

image

Thank you and I hope you enjoy it.

Terima kasih dan semoga Anda menyukainya.

Bandung, 25 Juni 2018

Warm Regards – Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

 

Note: Original post https://steemit.com/art/@mariska.lubis/indonesian-woman-doodle-bilingual-e50dae3ed7f8f