Bilakah Merdeka Itu Ada?

Terkadang saya jadi termenung sendiri jika memikirkan soal kemerdekaan. Rasanya jenuh dan bosan sekali dengan segala kemerdekaan semu yang terus dikumandangkan dan diyakini pula oleh banyak orang. Barangkali saya saja yang benar aneh cara berpikirnya, saya tidak pernah bisa melihat kemerdekaan selama jiwa-jiwa yang ada di hadapan saya masih terkurung oleh penjajahan dalam bentuk pembodohan yang sudah begitu mengakar. Pembodohan bukan arti tidak mengecap pendidikan formal, bahkan sudah pendidikan sangat tinggi pun masih terkurung dalam kebodohan akibat mau saja dibodohi, kok! Kapan merdeka itu ada sebenarnya?

Lomba Panjat Pohon Pisang

Jujur saja saya sempat frustasi juga dengan keadaan bangsa dan negara, juga dunia ini. Rasanya gemas sekali dan ingin berteriak sekeras-kerasnya membangunkan semua untuk segera bangun dan tersadar, jangan mau terus terlena dengan semua ini. Lupakan apa yang sudah menjadi keyakinan umum dan yang sudah dibuat seperti sedemikian rupa nampak benar, tetapi carilah sendiri kebenaran lewat hati dan pikiran yang lebih terbuka dan tak terbatas. Namun, tidak mungkin saya melakukannya, karena tidak akan pernah bisa tercapai semua itu, jika saya masih bersikap demikian. Betapapun besarnya keinginan untuk membantu dan memperbaiki dunia, negara, teman, bahkan keluarga dan teman dekat sendiri, tidak akan pernah terjadi bila kitanya sendiri tetap terjebak dengan segala unsur negatif dari rasa benci, marah, kesal, dan frustasi itu. Saya harus bisa merdeka dulu, jika saya ingin membuat orang juga merasakan kemerdekaan. Tidak ada gunanya berteriak merdeka bila masih tertindas bahkan oleh diri sendiri, percuma!

Coba kita lihat bagaimana diri kita sendiri di cermin, dan akuilah apa semua yang buruk dari diri kita sendiri, beranikah? Kita yang teriak kemerdekaan masih juga menindas orang lain, masih tidak berani untuk menerima perbedaan, dan terus memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Kita yang selalu minta dimengerti, tidak pernah mau mengerti walaupun selalu merasa sangat mengerti dan paling mengerti. Anak sendiri pun dipaksakan untuk mengikuti ambisi dan kemauan kita, tanpa pernah bisa merdeka menerima bahwa anak adalah manusia yang juga berhak mendapatkan kemerdekaannya. Anak hanyalah titipan Allah yang bukan milik kita. Sayang anak, bukan berarti menuntut anak untuk menjadi seperti yang kita inginkan, tetapi justru seharusnya membuat mereka menjadi diri mereka sendiri, siap menjadi seorang yang memiliki kepribadian dan bertanggungjawab pada diri mereka sendiri.

Lomba Makan Kerupuk

Continue reading Bilakah Merdeka Itu Ada?