Benarkah Kita Berada Pada Titik Nadir Kehidupan?

Jika kita melihat keadaan saat ini, segala sesuatunya menjadi simpang siur dan tidak lagi ada kejelasan apalagi kepastian. Ilmu filsafat dan ilmu pengetahuan tidak lagi digunakan untuk mencari kebenaran, hanya digunakan seperti untaian kata-kata yang indah semata. Kata-kata itu sendiri pun bukan untuk menjadi jalan mencari kebenaran, tetapi untuk dijadikan objek perdebatan yang pada akhirnya semuanya menjadi begitu berlebihan. Sementara ketika semua sudah berlebihan dan ekstrim, maka jalan lebar itu begitu terbuka, bukan untuk menjadi lebih maju melainkan justru menuju pada titik nadir kehidupan. Apakah benar memang kita semua sesungguhnya sedang berjalan pada kematian dan kehancuran?!

“Apa yang ada di balik semua yang terlihat oleh mata”? – @mariska.lubis

Percakapan antara saya dan putra sulung saya @marranarayan menjadi sangat menarik untuk dipikirkan lebih lanjut. Kami membicarakan betapa kami sekeluarga tidak ada yang “galur murni”, bahkan untuk menyebutkan kami ini berasal dari suku apapun tidak bisa, kami hanya bisa menyebut kami adalah “orang Indonesia’, yang lahir di kota Bandung, Jawa Barat. Sementara bila melihat sejarah dari leluhur saya saja pun, semuanya sudah merantau dan beradaptasi bahkan “berkembang biak” dengan berbagai suku bangsa dan etnis di dunia ini. Bisa dibilang, kami sangat beruntung, karena kami tidak perlu harus menjadi seseorang yang begitu ekstrem memandang diri sendiri hanya berdasarkan kaca-mata kesukuan atau etnis semata, tetapi menjadi anugerah karena kami menjadi bisa lebih menerima keragaman dan perbedaan yang ada, yang semuanya merupakan rahmat anugerah, di mana semua selalu ada kebaikan dan kekurangannya.

Continue reading Benarkah Kita Berada Pada Titik Nadir Kehidupan?