Yang Datang Dan Pergi – Kisah Pengalaman Pribadi Aksi Kedaulatan Rakyat (3)

Memandangi jalan dan rumah-rumah serta suasana di belakang Gedung Sarinah saat sedang duduk berpikir mencari jalan agar bisa melakukan komunikasi dengan kawan-kawan membuat kenangan indah di masa lalu muncul kembali. Daerah itu bukan daerah yang asing bagi saya, banyak keluarga dan kawan tinggal di sekitar sana, dan bahkan saya pun sempat tinggal sebentar saat masih kuliah. Mantan pacar saya yang paling awal dan terbanyak ceritanya pun rumahnya tak jauh dari tempat saya duduk, hanya sekitar 200 meter saja.

Baru beberapa bulan sebelumnya kami masih sempat makan bersama dengan beberapa orang karyawannya, di dekat sana karena kantornya pun tak jauh. Kami memang masih dekat dan bersahabat karena kenal sudah lama sekali sejak masih SMA, kuliah di Trisakti dan di Sydney pun sama-sama. Banyak kegiatan yang masih dilakukan bersama, teman-teman kami, ya itu-itu juga, sih! Sayangnya, hanya karena beda pilihan calon presiden, rasanya jadi ada yang aneh dari persahabatan yang sudah terjalin sekian lama itu. Ada yang hilang, kami tak bisa lagi berbincang seperti biasanya, saya malas meladeni segala ucapannya yang menurut saya terlalu mengintimidasi dan memaksa, walaupun dia masih sangat baik sebagai sahabat.

Kami yang tadinya satu group bersama di alumni SMANDEL pun jadi terpisah. Dia dengan kawan-kawan yang sealiran dan saya dengan kawan-kawan yang sejalan juga. Meskipun saya tidak pernah mau ikut-ikutan debat kusir di media social manapun hanya karena perbedaan ini, tetap saja selalu ada yang cerita dan membuat saya sedih sebetulnya. Apalagi, yang hilang dan terpisah bukan hanya dia, tapi ada banyak sekali kawan-kawan yang selama ini dekat dan masih bermain dengan saya, juga jadi seperti ada batas yang memisahkan. Mau sekedar basa basi di telepon pun jadi malas. Nggak enak banget!!!

Ada senangnya juga, karena saya jadi bergabung dan lebih banyak teman baru karena akhirnya saya bergabung dengan alumni lintas angkatan juga. Saya jadi tahu senior-senior saya yang angkatannya jauh banget, ada yang di atas 10 tahun, dan kami bisa ceria bersama. Meski saya boleh dibilang wakil yang termasuk termuda, karena di angkatan saya pun usia saya masuk yang termuda, tapi saya senang karena bisa belajar dan berbagi dengan semua. Saya malah sangat kagum dengan semangat mereka yang begitu membara, malah mengalahkan semangat mahasiswa yang ada sekarang. Tidak ada rasa takut, meski sudah terbilang jauh dari usia muda, tetap saja tak kenal lelah dan selalu semangat. Bukan hanya urusan perjuangan, namun juga dalam hal berbagi dan saling membantu. Sekolah yang sudah lama ditinggalkan tetap diperhatikan, guru-guru sampai kegiatan pendidikan dan bimbingan masih juga dijalankan.

Saya membayangkan bagaimana dengan orang-orang yang sedari tadi terus banyak lalu lalang di hadapan saya, apakah mereka mengalami dan merasakan hal yang sama dengan saya?! Mereka pun mungkin jadi ada batas pemisah dengan kawan-kawan sendiri, dan tak tertutup kemungkinan dengan keluarga. Hanya karena perbedaan pilihan, ya hanya karena perbedaan pilihan. Dan ini konyol sekali, menurut saya. Kenapa sampai harus terjadi? Siapa yang membuat perpecahan ini? Mengapa tega sekali melakukannya? Belum lagi karena tidak ada kepastian apa yang akan terjadi ke depan, bukan hal yang mustahil bila perpecahan ini menyimpan dendam dan terus berlanjut, siapa yang paling diuntungkan?!

Beberapa kali saya mencuri pandang wajah senior-senior saya selama aksi Kedaulatan Rakyat 21-22 Mei lalu. Saya memperhatikan apa yang mereka lakukan dari atas tempat saya berdiri, sementara mereka duduk bersama di bawah, di lapangan parkir. Saya ingat juga ada yang harus rebut dengan anak sendiri karena beda pandangan dan pilihan, entahlah, hati saya jadi terusik sekali.

Saya tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi bila para tokoh dan pemimpin bangsa ini masih saja bersikukuh dengan kepentingan dan hanya memanfaatkan rakyat yang begitu tulus dan naifnya mendukung pilihannya masing-masing. Sementara Indonesia tercinta bukan hanya milik segelintir orang dan pihak, tetapi adalah milik semua rakyat Indonesia. Sudah sepatutnya rakyat yang diprioritaskan dan dilayani, karena meski menjadi pimpinan pun sesungguhnya tetap berada di bawah rakyat. Rakyat yang menggaji dan memberikan semua fasilitas, mengapa rakyat yang terus dijadikan objek kepentingan?

Jujur saja saya sudah malas bicara dan debat, apalagi menuding siapa yang salah. Saya lebih memilih memikirkan apa yang sebaiknya saya lakukan ke depan dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Baik dan yang terburuknya tetap harus siap, karena tak ada satu pun dari kita yang tahu pasti apa yang akan terjadi esok. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha, semoga kita semua bisa benar siap menghadapi segala kemungkinannya. Tak mau juga saya berharap, sebab saya tak mau kecewa, saya memilih untuk melakukan apa yang bisa saya lakukan saja. Saya yakin meski buruk sekalipun, tetap adalah yang terbaik yang dibutuhkan. Alasan mengapa, hanya Allah yang tahu dan kita biasanya terlambat menyadarinya.

Yah ini hanya catatan perenungan singkat mengingat saat-saat saya duduk di trotoar jalan, saat aksi Kedaulatan Rakyat berlangsung di depan Bawaslu. Sekaligus perenungan atas perbincangan dengan orang yang memiliki cinta dengan perhatian dan pemikirannya untuk saya dan masa depan. Yang hilang semoga bisa kembali dan yang datang, semoga terus bertahan dan tak ada lagi perpecahan yang harus menjadi batas pemisah yang memberi jarak.

Semoga berguna dan bermanfaat juga bagi semua.

 

Bandung, 25 Mei 2019

03:03 WIB

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

Misteri Perempuan Bercadar Anti Peluru Dan Kaki Penuh Tato – Kisah Pengalaman Pribadi Aksi Kedaulatan Rakyat (2)

Geger video yang menampilkan sosok seorang perempuan bercadar berjalan sendirian ke tengah jalan dan banyak yang terkagum-kagum melihatnya, termasuk saya. Namun saya teringat dengan sosok perempuan yang saya lihat di seputar Gedung Sarinah sore harinya, hati saya berbisik, “Ada yang janggal dengan perempuan itu”. Gayanya dan bawaan yang dibawanya terlalu berlebihan. Saat lompat pagar masuk ke dalam halaman gedung pun, karena semua akses ditutup,  kawan saya bertanya, “Kok bercadar tapi kenapa kakinya yang tersingkap saat menaiki pagar, kok penuh tato?”. Orang yang samakah?!

Saya sangat kagum dengan emak-emak yang turut dalam aksi Kedaulatan rakyat 21-22 Mei di depan Bawaslu, nyalinya benar-benar harus diacungi jempol. Tak sedikit yang masuk ke ring 1 area aksi dan mereka berani memberikan bunga dan berbincang dengan polisi Brimob di sana, meski harus merasakan tekanan yang ada. Saya  sempat khawatir juga mengingat banyak yang sudah tidak muda lagi dan  sepertinya  kurang fit bila harus berlari dan jalan jauh, sementara emosi  sulit dikendalikan.

Seperti emak-emak yang ada di teras dan  pelataran parkir Gedung Sarinah pada tanggal 21 Mei lalu. Mereka datang dari mana-mana, ada yang jauh dari BSD, Serang, Tegal, Malang, Bandung, Bogor, dan lain-lain yang tentunya membuat kondisi fisik  capek dan letih. Saya sengaja mengajak mereka berbincang, sekaligus silaturahmi, apalagi saya juga harus awasi rombongan emak-emak alumni SMANDEL Jakarta yang datang bersama saya, dan semuanya di atas saya jauh. Berhubung yang paling muda, ya saya harus tahu dirilah. Kalau  ada yang dibutuhkan, saya masih sanggup berlari.

Kami berhadapan langsung dengan pasukan Brimob yang berjejer dengan tameng mereka, dan tidak peduli. Ada emak-emak yang terpeleset di tangga pun mereka acuhkan, padahal ada di depan mata, sejauh tangan  mereka. Saya kesal juga melihatnya., lagipula n menurut saya, tidak ada guna mereka masuk ke dalam, untuk apa? Apa yang mau mereka lakukan di dalam? Wajar jika banyak emak-emak yang terpancing emosi dan mulai bicara nada tinggi dan tak sedap didengar telinga. Ada yang bertolak pinggang dan mulai mencoba mendorong tameng polisi dan meminta tameng mereka diturunkan. Saya sempat memberikan arahan, “Bu, jangan pancing mereka! Diam sajalah! Biarkan mereka apa maunya!”.

Saya putuskan naik ke atas  untuk  melihat situasi dari atas agar lebih jelas. Beruntung saya berjumpa dengan banyak TNI dari Kodam yang membangun barak di atas dan saya agak tenang. Beberapa orang TNI akhirnya turun dan berdiri di antara polisi dan emak-emak. Lega rasanya! Saya yakin TNI ada di pihak yang sama, dan mereka tidak akan turun bila tidak ada pancingan kerusuhan. Berbeda mereka dengan para Brimob yang ada di sana. Saya lebih banyak di atas pada akhirnya, saya pikir lebih baik agar ada yang bisa memantau lebih jelas, kalau di bawah pemandangan terbatas karena banyak orang.

Kembali ke soal perempuan bercadar tadi, saya sempat melihatnya lagi berjalan ke samping kanan gedung dengan segala barang bawaannya, repot sekali melihatnya pun. Saya tidak perhatikan lebih jauh, namun ketika beredar info bahwa ternyata perempuan bercadar yang misterius itu adalah hanya sedang akting saja,saya tidak heran. Perempuan sangat mudah dijadikan alat  kepentingan pada saat dan situasi demikian, dan karena banyak emak-emak yang bernyali,  jika tidak hati-hati akan sangat mudah disusupi.

Perempuan Indonesia memang keren dan kuat, tak perlu teriak soal emansipasi pun  sudah sangat kuat karena fitrahnya. Perempuan Indonesia harus terus berjuang bagi perubahan dan masa depan yang lebih baik. Biarkan  saja perempuan-perempuan cengeng itu terus merengek, merajuk hanya untuk uang dan kekuasaan. Misteri kehebatan perempuan Indonesia adalah misteri Allah yang jauh lebih dahsyat dibandingkan perempuan bercadar yang hanya pura-pura hebat! Nggak usah bertato pun lebih sangar, deh!!!

Merdeka!!! Allahu Akbar!!!

 

Bandung, 24 Mei 2019

16:29 WIB

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

 

 

 

 

 

Hati Kami Pun Harus Dipisahkan Posisi Dan Kondisi – Kisah Pengalaman Pribadi Aksi Kedaulatan Rakyat (1)

Jantung berdegup kencang ketika seorang anggota Brimob yang menjaga Aksi Kedaulatan Rakyat di lapangan parkir Gedung Sarinah, depan Kantor Bawaslu tanggal 22 Mei 2019 lalu,  memanggil saya. “Kak Mariska! Pue haba, Kak? Kapan kakak ke Aceh lagi? Masih ingat saya, Kak?” katanya sambil tersenyum ramah sekali. Hati saya terguncang melihatnya, rasanya ingin menangis, mengingat pada saat itu kami dalam posisi dan kondisi yang berbeda. Saya tidak ingat dia siapa, namun saya dapat membayangkan semua  cerita indah yang saya dapatkan selama saya bolak-balik Aceh dan berjumpa banyak sekali orang. Sedih kami berjumpa lagi di Jakarta justru harus dalam posisi berlawanan. Ada perih yang menusuk hati saya.

Begitu pun ketika sebelumnya saya menghampiri pagar gedung untuk melihat situasi dan keadaan di Jalan Thamrin yang dipenuhi  pasukan Brimob di hadapan mata sementara para peserta aksi ramai sekali di sebelah kanan dan belakang saya. tahu sebelumnya oleh kawan, bahwa  pasukan Brimob yang menjaga hari itu adalah kiriman dari Aceh.  Saya agak terkejut, apalagi hari itu adalah Hari ke-17 Ramadhan, dan saya yakin para  anggota Brimob di sana yang dari Aceh ikut berpuasa juga. Salah seorang dari mereka menyapa saya, “Saya tahu Kakak. Kakak penulis yang dikenal dan banyak menulis di Aceh. Wajah kakak banyak yang kenal”.

Saya langsung mengajaknya berbincang ringan. “Sejak kapan dikirim ke  Jakarta, dik?”.

“Sebulan lebihlah, Kak”, jawabnya.

“Kamu pasti kuat, karena panas di sini tak sepanas di Aceh, ya?”.

“Ya Kak, tapi saya puasa Kak”.

Saya bisa membayangkan bagaimana beratnya dia, harus berpuasa menjalankan ibadahnya, namun di sisi lain, dia juga harus mematuhi perintah atasannya pan dengan saudara-saudaranya  sendiri yang seiman dan setanah air. Saya berharap saat itu, semoga tidak terjadi peristiwa yang lebih buruk dari malam sebelumnya. Hari sebelumnya, tempat saya berdiri yang sama, saya dapat menyaksikan pasukan Brimob yang berjaga banyak yang tidak berpuasa. Dalam benak saya, masih terbayang  pasukan yang bersiap seolah hendak perang di hadapan mata, justru pada saat rakyat yang melakukan aksi masih sedang  shalat tarawih bersama. Dan kejadian tidak dapat dihindarkan, benar setelah shalat baru saja selesai, rakyat yang beraksi damai harus berhadapan dengan mereka. Saat itu, saya hanya berharap semoga puasa bisa membantu menjernihkan hati dan pikiran, sehingga  mampu memilah mana yang lebih prioritas untuk dibela.

Sebelum saya pergi, saya sempat menggodanya, “Pulang kita nanti yah! Jangan lewatkan  meugang!”. (meugang, adat budaya Aceh memasak dan makan bersama.)

Dia dan kawan-kawan di sampingnya yang masih duduk di bawah pohon di atas trotoar pun tersenyum, “Hari Raya, ya Kak!”.

Alangkah mirisnya hati, ketika baru saja buka puasa dan selesai shalat magrib, saya mendengar suara riuh rendah dan melihat banyak orang berlarian. Ibu-ibu yang berlari melintas di depan saya menyuruh saya pergi dan menghindar. Kebetulan saya dan anak saya sedang berada di samping gereja Theresia yang berada di belakang Gedung Sarinah, kami memang duduk di sana dari sebelum buka untuk mencari signal internet yang sepertinya sengaja diblokir di area Gedung Sarinah, sehingga sulit berkomunikasi. Apalagi sebelumnya sudah ada pengumuman  bahwa medsos akan diblokir  juga mulai pukul 18-20 WIB, saya harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya agar bisa terus berhubungan dengan banyak orang di luar area, memberi tahu sitasi dan kondisi terkini. Shalat magrib pun saya menumpang di mushala sebuah cafe yang ada di seberang jalan.

Saya tidak habis pikir, bagaimana orang bisa berbuka puasa dengan cara melakukan kekerasan terhadap saudara seiman dan setanah air,  pada rakyat yang seharusnya dibela dan dilindungi serta dilayani dan diprioritaskan haknya. Tidak ada waktu dan kesempatan diberikan untuk shalat isya dan tarawih bersama kembali, dan entah apakah perintah atasan lebih penting daripada perintah Allah, sehingga mereka pun  tak melakukan ibadah shalat sebagaimana semestinya. Hingga malam, keadaan semakin memburuk., banyak ambulance  melintas kencang di hadapan saya membawa korban. Hingga larut malam, saya pergi sekitar pukul 1 dini hari, keadaan masih berantakan sekali. Massa masih banyak dan korban pun semakin banyak yang berjatuhan akibat gas air mata dan entah lainnya.

Sepanjang  malam saya tidak bisa tidur nyenyak walau badan sangat letih. Hati saya masih terluka. Mengapa hati kami harus terpisah hanya karena situasi dan kondisi? Apakah benar bahwa hati itu memang sudah tak ada lagi hanya karena urusan  uang dan jabatan? Apakah memang Allah itu dianggap tidak lagi ada, dan atasan yang hanya manusia biasa  jauh lebih ditakuti? Entahlah.

Semoga Allah memberikan hidayah bagi mereka yang sudah kehilangan hatinya.

 

Bandung, 24 Mei 2019

02:38 WIB

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

 

 

 

Keledai Durjana Memang Tak Memiliki Kemaluan

Sudah suaranya parau, teriaknya kencang dan kasar pula, tidak juga memiliki rasa malu. Kerjanya hanya membuat malu, mempermalukan, dan menunjuk jari untuk menutupi semua kemaluannya yang sudah hilang. Tidak ada setitik pun kemaluan yang tersisa, walau merasa otak masih dimiliki. Padahal, otak yang sudah berantakan itu tidak ada isinya lagi jika tidak memiliki kemaluan sama sekali. Semua yang dipikirkan dan diucapkan hanyalah menjadi fatamorgana keledai pemimpi di siang bolong yang membuatnya menjadi durjana.

Mengikuti apa yang dilakukan para keledai ini pernah membuat saya marah, namun kini sudah tidak ada lagi marah yang tersisa. Saya hanya tertawa dan tersenyum saja menyaksikan setiap tingkah polah dan kata-kata yang mereka ucapkan. Biarlah saya dibilang sombong sekalipun, tetapi memang tidak ada gunanya menanggapi mereka, keledai memang bukan kuda. Tidak perlu dibandingkan, karena memang tidak sebanding, apalagi para keledai durjana yang sudah tak berkemaluan itu.

Continue reading Keledai Durjana Memang Tak Memiliki Kemaluan

Ketika Dungu Itu Bukan Lagi Fiksi

Setiap kali dengar kata dungu, saya jadi selalu teringat dengan sebuah literatur drama yang dibuat oleh seorang penulis Yunani di masa lalu, bernama Euripides. Drama itu berjudul “The Bacchae/The Bakkai” yang menceritakan tentang sebuah tragedi yang terjadi di kerajaan, di mana raja dan ibunya mendapatkan hukuman dari dewa karena tidak mau menyembah dewa tersebut. Ada sebuah quote dari drama ini yang terkenal, “Talk sense to a fool and he calls you a foolish” dan menurut saya ini adalah sebuah fakta, bukan sekedar sebuah pernyataan fiksi walaupun berdasarkan dari imajinasi yang menghasilkan pemikiran dan dituangkan lewat kata-kata. 

 

“Siapa yang paling pandai memainkan boneka keledai?”

Sumber gambar: http://www.doitecofashionshow.com/-stupid-donkey-design-plush-hand-puppet

Continue reading Ketika Dungu Itu Bukan Lagi Fiksi

Sekedar Catatan Malam 22/11/2018 02.11 WIB

Malam masih berkabut setelah hujan lebat sejak sore tadi. Seekor tikus besar menatap penuh harap, seolah meminta agar diijinkan untuk masuk ke dalam rumah. Meskipun tidak suka, tapi tidak apalah, kasihan juga. Barangkali dia lapar atau kedinginan, berbagi sedikit dengannya tidak akan membuat saya mati kelaparan atau susah. Namanya juga tikus, binatang mamalia, dia hanya bisa berusaha untuk bisa tetap bertahan hidup dan meneruskan keturunannya.

Lain lagi dengan tanaman yang juga ada di depan mata. Mereka tidak menampakkan susah sama sekali walaupun pagi sampai siang tersengat matahari dan lalu tiba-tiba diguyur hujan sepanjang sore hinggga malam. Bunga-bunga yang menyembul di antara dedaunan itu, malah sepertinya semakin segar dan cantik. Apakah mereka tidak merasa kedinginan, ya? Mungkin mereka punya energy yang lebih banyak karena tidak memiliki kemampuan untuk berpikir dan memilih, apalagi untuk memiliki kemampuan untuk belajar. Sama sebenarnya dengan tikus tadi, mereka hanya berdasarkan naluri dan kepasrahan saja, yang penting bisa hidup dan terus berkembang biak. Sementara manusia, lain lagi ceritanya.

Kemarin saya terkejut dengan pertanyaan seseorang yang berkata bahwa dia menulis untuk uang. “Tidak usah munafik, saya menulis karena uang,” katanya. Saya tidak mempermasalahkan hal ini, karena kebanyakan orang memang berpikir bahwa yang nomor satu adalah uang karena jelas uang dibutuhkan untuk  memenuhi kebutuhan hidup. Banyak juga yang memang menggunakan kemampuannya menulis sebagai profesi yang menghasilkan pendapatan, seperti para wartawan, buzzer, dan lain sebagainya. Namun saya pikir, rasanya aneh juga kalau yang dipikirkan hanya soal uangnya saja, tetapi tidak dipikirkan bagaimana pengaruh atas tulisan dan segala perbuatan yang dilakukan karena berpikir tentang uang semata. Bagi saya, ini tidak ada bedanya dengan tikus dan tanaman tadi, pikirnya hanya untuk bertahan hidup saja, tidak lebih dari itu. Untuk berpikir bahwa bertahan hidup saja seharusnya ada banyak hal penting lain yang perlu dipikirkan. Contoh, jika menulis hanya untuk uang dan melakukan plagiat begitu saja, apakah tidak merasa sudah merugikan orang lain?!

Continue reading Sekedar Catatan Malam 22/11/2018 02.11 WIB