Ketika Dungu Itu Bukan Lagi Fiksi

Setiap kali dengar kata dungu, saya jadi selalu teringat dengan sebuah literatur drama yang dibuat oleh seorang penulis Yunani di masa lalu, bernama Euripides. Drama itu berjudul “The Bacchae/The Bakkai” yang menceritakan tentang sebuah tragedi yang terjadi di kerajaan, di mana raja dan ibunya mendapatkan hukuman dari dewa karena tidak mau menyembah dewa tersebut. Ada sebuah quote dari drama ini yang terkenal, “Talk sense to a fool and he calls you a foolish” dan menurut saya ini adalah sebuah fakta, bukan sekedar sebuah pernyataan fiksi walaupun berdasarkan dari imajinasi yang menghasilkan pemikiran dan dituangkan lewat kata-kata. 

 

“Siapa yang paling pandai memainkan boneka keledai?”

Sumber gambar: http://www.doitecofashionshow.com/-stupid-donkey-design-plush-hand-puppet

Continue reading Ketika Dungu Itu Bukan Lagi Fiksi

Sekedar Catatan Malam 22/11/2018 02.11 WIB

Malam masih berkabut setelah hujan lebat sejak sore tadi. Seekor tikus besar menatap penuh harap, seolah meminta agar diijinkan untuk masuk ke dalam rumah. Meskipun tidak suka, tapi tidak apalah, kasihan juga. Barangkali dia lapar atau kedinginan, berbagi sedikit dengannya tidak akan membuat saya mati kelaparan atau susah. Namanya juga tikus, binatang mamalia, dia hanya bisa berusaha untuk bisa tetap bertahan hidup dan meneruskan keturunannya.

Lain lagi dengan tanaman yang juga ada di depan mata. Mereka tidak menampakkan susah sama sekali walaupun pagi sampai siang tersengat matahari dan lalu tiba-tiba diguyur hujan sepanjang sore hinggga malam. Bunga-bunga yang menyembul di antara dedaunan itu, malah sepertinya semakin segar dan cantik. Apakah mereka tidak merasa kedinginan, ya? Mungkin mereka punya energy yang lebih banyak karena tidak memiliki kemampuan untuk berpikir dan memilih, apalagi untuk memiliki kemampuan untuk belajar. Sama sebenarnya dengan tikus tadi, mereka hanya berdasarkan naluri dan kepasrahan saja, yang penting bisa hidup dan terus berkembang biak. Sementara manusia, lain lagi ceritanya.

Kemarin saya terkejut dengan pertanyaan seseorang yang berkata bahwa dia menulis untuk uang. “Tidak usah munafik, saya menulis karena uang,” katanya. Saya tidak mempermasalahkan hal ini, karena kebanyakan orang memang berpikir bahwa yang nomor satu adalah uang karena jelas uang dibutuhkan untuk  memenuhi kebutuhan hidup. Banyak juga yang memang menggunakan kemampuannya menulis sebagai profesi yang menghasilkan pendapatan, seperti para wartawan, buzzer, dan lain sebagainya. Namun saya pikir, rasanya aneh juga kalau yang dipikirkan hanya soal uangnya saja, tetapi tidak dipikirkan bagaimana pengaruh atas tulisan dan segala perbuatan yang dilakukan karena berpikir tentang uang semata. Bagi saya, ini tidak ada bedanya dengan tikus dan tanaman tadi, pikirnya hanya untuk bertahan hidup saja, tidak lebih dari itu. Untuk berpikir bahwa bertahan hidup saja seharusnya ada banyak hal penting lain yang perlu dipikirkan. Contoh, jika menulis hanya untuk uang dan melakukan plagiat begitu saja, apakah tidak merasa sudah merugikan orang lain?!

Continue reading Sekedar Catatan Malam 22/11/2018 02.11 WIB