Buka Kartu Soal Arnes Lukman, Calon Wakilnya Anies Baswedan

Uda Arnes, demikian saya memanggil beliau sejak dulu. Jangan ditanya kapan pertama kali kami kenal dan berjumpa, yang pasti lebih dari setengah usia saya. Banyak kisah yang bisa saya ceritakan tentang beliau, mulai dari yang konyol sampai yang serius banget, namun saya memilih bercerita tentang apa yang paling jarang diketahui orang. Meski selalu tampil perlente, sedikit bandel, gahar dan senang membanyol, beliau sesungguhnya religius. Bukan religius dalam arti berpakaian dan berpenampilan, namun dalam berkata dan berbuat. Saya tahu persis dan merasakan sendiri semua perbuatan baiknya terhadap saya dan banyak orang.

Uda Arnes Lukman (paling kiri) saat acara Peringatan Seabad Pesantren Mustafawiyah Purba Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Saya menceritakan Uda Arnes ini, mengingat pentingnya kita semua , terutama warga DKI Jakarta untuk mengetahui sosok yang dicalonkan sebagai wakilnya Gubernur Anies Baswedan. Selama ini kita lebih sering memilih tanpa mengetahui sosok yang sebenarnya, saat ini, saya pikir menjadi kesempatan yang baik untuk kita semua mulai belajar membuka dan mempelajari sosok yang pantas untuk menjadi pemimpin. Apalagi, setahu saya, beliau selama ini hanya dikenal sebagai seorang psikolog, pengusaha, dan professional yang berhasil. Dalam dunia usaha, tidak hanya di Indonesia, beliau pun memiliki usaha di Australia. Jadi, tak perlu lagilah kita bahas tentang hal ini, tinggal search di google banyak sekali.

Nah, berhubung beliau pun juga bukan tipe orang yang jarang tampil di media, lebih memilih bekerja saja tanpa harus banyak “pamer dan cingcong”,  sebagai adik kecil yang sering membuat beliau repot, dengan senang hati saya pun ingin menunjukkan sisi-sisi lain yang perlu diketahui oleh banyak orang. Beliau sesungguhnya sangat lembut, suaranya pun lembut dan meski keras terhadap dirinya sendiri dan terhadap kehidupan, namun hatinya lembut. Sangat mudah tersentuh dan terenyuh. Tak heran bila beliau memiliki teman yang sangat banyak, pergaulannya luas sekali, mulai dari tukang parkir di pinggir jalan, sampai pengusaha dan pejabat papan atas pun bisa menjadi teman dan sahabat beliau. Menurut saya pribadi, sisi inilah yang juga menunjukkan bahwa beliau berusaha menjalankan silaturahmi dengan baik, seperti yang memang diajarkan oleh Islam, agama beliau.

Sebagai catatan, beliau ini pernah sekolah dan tinggal di mana-mana, termasuk di Padang, Jakarta, Banten, Bandung, dan Australia. Sewaktu di Bandung, beliau malah lebih dikenal sebagai jawara Banten, bukan sebagai “urang awak”. Di mana-mana beliau bisa beradaptasi dengan mudah dan cepat mendapatkan teman. Dari anak-anak hingga yang sudah sepuh pun bisa dekat dengan beliau. Tak segan beliau turun tangan sendiri memasak dan menyuapi mertuanya sendiri yang sedang sakit. Jarang banget, kan? Biasanya menantu lelaki cuek habis, apalagi dengan mertua lelaki juga. Ini sampai mau merawat, memasak, dan bahkan dengan sabar menyuapi.

Dulu saya sempat tidak percaya ketika beliau juga bermarga Nasution. Setahu saya beliau lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, kok! Baru kemudian ketika saya mengetahui bahwa beliau adalah Ketua Dewan Pembina Pesantren Mustafawiyah Purba Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Pesantren ini adalah pesantren tertua di Sumatra, dan berhubung saya bermarga Lubis, di mana keluarga besar saya pun banyak yang dekat dengan pesantren ini, saya jadi mengetahuinya. Pesantren ini memang sangat terkenal, selain karena memiliki 12.000 santri per tahun, tetapi juga dikenal sebagai pesantren yang menghasilkan santri mandiri. Tentunya peran dari ketua dewan pembina tidak sedikit dalam hal ini, saya tidak heran kalau beliau bisa melakukannya. Akalnya panjang dan idenya banyak, sih! Apalagi beliau juga seorang psikolog, yang juga menjadi memiliki peran di Ikatan Sarjana Psikologi Universitas Padjadjaran, Bandung, tentunya beliau tahu apa yang semestinya dan yang terbaik dilakukan.

Saya tak perlulah yah bercerita soal bagaimana kemudian beliau juga memiliki peran dalam membesarkan pesantren tersebut. Yang saya ketahui pasti, sejak muda beliau memang sudah aktif di sana, hingga saat ini. Jika tadi saya sebut saya mengenal beliau lebih dari setengah umur saya, beliau sudah ada dan mengurus pesantren tersebut sudah lebih lama lagi. Wajarlah bila saya selalu menggoda beliau dengan sebutan “angku”, karena menurut saya, beliau sebenarnya sangat pantas untuk menjadi seorang panutan. Cara beliau beragama tidak dengan banyak bicara soal ini tapi langsung dengan membuktikannya lewat perbuatan.

Jika pun sekarang  dicalonkan menjadi wakilnya Anies Baswedan, menurut saya bagus, apalagi beliau secara materi sudah sangat mapan. Capeklah kita dengan orang yang masih membutuhkan harta dengan mengatasnamakan pengabdian dan rakyat! Di usianya saat ini, apalagi yang ingin dikejarnya?! Beliau bisa memilih santai-santai saja dengan istri dan anak-anak, tak perlu repot mengurus apa-apa lagi. Bila ada yang mencalonkan beliau, saya anggap sebagai takdirnya. Kenapa? Sebab beliau selalu berkata beliau ingin membantu bangsanya dan rakyatnya, dan barangkali juga karena Allah mengijabah kata-kata yang diucapkannya sendiri.

“Semangat uda! Saya mendukungmu!!!”

 

Jakarta, 22 November 2019

 

Mariska Lubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *