Misteri Perempuan Bercadar Anti Peluru Dan Kaki Penuh Tato – Kisah Pengalaman Pribadi Aksi Kedaulatan Rakyat (2)

Geger video yang menampilkan sosok seorang perempuan bercadar berjalan sendirian ke tengah jalan dan banyak yang terkagum-kagum melihatnya, termasuk saya. Namun saya teringat dengan sosok perempuan yang saya lihat di seputar Gedung Sarinah sore harinya, hati saya berbisik, “Ada yang janggal dengan perempuan itu”. Gayanya dan bawaan yang dibawanya terlalu berlebihan. Saat lompat pagar masuk ke dalam halaman gedung pun, karena semua akses ditutup,  kawan saya bertanya, “Kok bercadar tapi kenapa kakinya yang tersingkap saat menaiki pagar, kok penuh tato?”. Orang yang samakah?!

Saya sangat kagum dengan emak-emak yang turut dalam aksi Kedaulatan rakyat 21-22 Mei di depan Bawaslu, nyalinya benar-benar harus diacungi jempol. Tak sedikit yang masuk ke ring 1 area aksi dan mereka berani memberikan bunga dan berbincang dengan polisi Brimob di sana, meski harus merasakan tekanan yang ada. Saya  sempat khawatir juga mengingat banyak yang sudah tidak muda lagi dan  sepertinya  kurang fit bila harus berlari dan jalan jauh, sementara emosi  sulit dikendalikan.

Seperti emak-emak yang ada di teras dan  pelataran parkir Gedung Sarinah pada tanggal 21 Mei lalu. Mereka datang dari mana-mana, ada yang jauh dari BSD, Serang, Tegal, Malang, Bandung, Bogor, dan lain-lain yang tentunya membuat kondisi fisik  capek dan letih. Saya sengaja mengajak mereka berbincang, sekaligus silaturahmi, apalagi saya juga harus awasi rombongan emak-emak alumni SMANDEL Jakarta yang datang bersama saya, dan semuanya di atas saya jauh. Berhubung yang paling muda, ya saya harus tahu dirilah. Kalau  ada yang dibutuhkan, saya masih sanggup berlari.

Kami berhadapan langsung dengan pasukan Brimob yang berjejer dengan tameng mereka, dan tidak peduli. Ada emak-emak yang terpeleset di tangga pun mereka acuhkan, padahal ada di depan mata, sejauh tangan  mereka. Saya kesal juga melihatnya., lagipula n menurut saya, tidak ada guna mereka masuk ke dalam, untuk apa? Apa yang mau mereka lakukan di dalam? Wajar jika banyak emak-emak yang terpancing emosi dan mulai bicara nada tinggi dan tak sedap didengar telinga. Ada yang bertolak pinggang dan mulai mencoba mendorong tameng polisi dan meminta tameng mereka diturunkan. Saya sempat memberikan arahan, “Bu, jangan pancing mereka! Diam sajalah! Biarkan mereka apa maunya!”.

Saya putuskan naik ke atas  untuk  melihat situasi dari atas agar lebih jelas. Beruntung saya berjumpa dengan banyak TNI dari Kodam yang membangun barak di atas dan saya agak tenang. Beberapa orang TNI akhirnya turun dan berdiri di antara polisi dan emak-emak. Lega rasanya! Saya yakin TNI ada di pihak yang sama, dan mereka tidak akan turun bila tidak ada pancingan kerusuhan. Berbeda mereka dengan para Brimob yang ada di sana. Saya lebih banyak di atas pada akhirnya, saya pikir lebih baik agar ada yang bisa memantau lebih jelas, kalau di bawah pemandangan terbatas karena banyak orang.

Kembali ke soal perempuan bercadar tadi, saya sempat melihatnya lagi berjalan ke samping kanan gedung dengan segala barang bawaannya, repot sekali melihatnya pun. Saya tidak perhatikan lebih jauh, namun ketika beredar info bahwa ternyata perempuan bercadar yang misterius itu adalah hanya sedang akting saja,saya tidak heran. Perempuan sangat mudah dijadikan alat  kepentingan pada saat dan situasi demikian, dan karena banyak emak-emak yang bernyali,  jika tidak hati-hati akan sangat mudah disusupi.

Perempuan Indonesia memang keren dan kuat, tak perlu teriak soal emansipasi pun  sudah sangat kuat karena fitrahnya. Perempuan Indonesia harus terus berjuang bagi perubahan dan masa depan yang lebih baik. Biarkan  saja perempuan-perempuan cengeng itu terus merengek, merajuk hanya untuk uang dan kekuasaan. Misteri kehebatan perempuan Indonesia adalah misteri Allah yang jauh lebih dahsyat dibandingkan perempuan bercadar yang hanya pura-pura hebat! Nggak usah bertato pun lebih sangar, deh!!!

Merdeka!!! Allahu Akbar!!!

 

Bandung, 24 Mei 2019

16:29 WIB

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *