Hati Kami Pun Harus Dipisahkan Posisi Dan Kondisi – Kisah Pengalaman Pribadi Aksi Kedaulatan Rakyat (1)

Jantung berdegup kencang ketika seorang anggota Brimob yang menjaga Aksi Kedaulatan Rakyat di lapangan parkir Gedung Sarinah, depan Kantor Bawaslu tanggal 22 Mei 2019 lalu,  memanggil saya. “Kak Mariska! Pue haba, Kak? Kapan kakak ke Aceh lagi? Masih ingat saya, Kak?” katanya sambil tersenyum ramah sekali. Hati saya terguncang melihatnya, rasanya ingin menangis, mengingat pada saat itu kami dalam posisi dan kondisi yang berbeda. Saya tidak ingat dia siapa, namun saya dapat membayangkan semua  cerita indah yang saya dapatkan selama saya bolak-balik Aceh dan berjumpa banyak sekali orang. Sedih kami berjumpa lagi di Jakarta justru harus dalam posisi berlawanan. Ada perih yang menusuk hati saya.

Begitu pun ketika sebelumnya saya menghampiri pagar gedung untuk melihat situasi dan keadaan di Jalan Thamrin yang dipenuhi  pasukan Brimob di hadapan mata sementara para peserta aksi ramai sekali di sebelah kanan dan belakang saya. tahu sebelumnya oleh kawan, bahwa  pasukan Brimob yang menjaga hari itu adalah kiriman dari Aceh.  Saya agak terkejut, apalagi hari itu adalah Hari ke-17 Ramadhan, dan saya yakin para  anggota Brimob di sana yang dari Aceh ikut berpuasa juga. Salah seorang dari mereka menyapa saya, “Saya tahu Kakak. Kakak penulis yang dikenal dan banyak menulis di Aceh. Wajah kakak banyak yang kenal”.

Saya langsung mengajaknya berbincang ringan. “Sejak kapan dikirim ke  Jakarta, dik?”.

“Sebulan lebihlah, Kak”, jawabnya.

“Kamu pasti kuat, karena panas di sini tak sepanas di Aceh, ya?”.

“Ya Kak, tapi saya puasa Kak”.

Saya bisa membayangkan bagaimana beratnya dia, harus berpuasa menjalankan ibadahnya, namun di sisi lain, dia juga harus mematuhi perintah atasannya pan dengan saudara-saudaranya  sendiri yang seiman dan setanah air. Saya berharap saat itu, semoga tidak terjadi peristiwa yang lebih buruk dari malam sebelumnya. Hari sebelumnya, tempat saya berdiri yang sama, saya dapat menyaksikan pasukan Brimob yang berjaga banyak yang tidak berpuasa. Dalam benak saya, masih terbayang  pasukan yang bersiap seolah hendak perang di hadapan mata, justru pada saat rakyat yang melakukan aksi masih sedang  shalat tarawih bersama. Dan kejadian tidak dapat dihindarkan, benar setelah shalat baru saja selesai, rakyat yang beraksi damai harus berhadapan dengan mereka. Saat itu, saya hanya berharap semoga puasa bisa membantu menjernihkan hati dan pikiran, sehingga  mampu memilah mana yang lebih prioritas untuk dibela.

Sebelum saya pergi, saya sempat menggodanya, “Pulang kita nanti yah! Jangan lewatkan  meugang!”. (meugang, adat budaya Aceh memasak dan makan bersama.)

Dia dan kawan-kawan di sampingnya yang masih duduk di bawah pohon di atas trotoar pun tersenyum, “Hari Raya, ya Kak!”.

Alangkah mirisnya hati, ketika baru saja buka puasa dan selesai shalat magrib, saya mendengar suara riuh rendah dan melihat banyak orang berlarian. Ibu-ibu yang berlari melintas di depan saya menyuruh saya pergi dan menghindar. Kebetulan saya dan anak saya sedang berada di samping gereja Theresia yang berada di belakang Gedung Sarinah, kami memang duduk di sana dari sebelum buka untuk mencari signal internet yang sepertinya sengaja diblokir di area Gedung Sarinah, sehingga sulit berkomunikasi. Apalagi sebelumnya sudah ada pengumuman  bahwa medsos akan diblokir  juga mulai pukul 18-20 WIB, saya harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya agar bisa terus berhubungan dengan banyak orang di luar area, memberi tahu sitasi dan kondisi terkini. Shalat magrib pun saya menumpang di mushala sebuah cafe yang ada di seberang jalan.

Saya tidak habis pikir, bagaimana orang bisa berbuka puasa dengan cara melakukan kekerasan terhadap saudara seiman dan setanah air,  pada rakyat yang seharusnya dibela dan dilindungi serta dilayani dan diprioritaskan haknya. Tidak ada waktu dan kesempatan diberikan untuk shalat isya dan tarawih bersama kembali, dan entah apakah perintah atasan lebih penting daripada perintah Allah, sehingga mereka pun  tak melakukan ibadah shalat sebagaimana semestinya. Hingga malam, keadaan semakin memburuk., banyak ambulance  melintas kencang di hadapan saya membawa korban. Hingga larut malam, saya pergi sekitar pukul 1 dini hari, keadaan masih berantakan sekali. Massa masih banyak dan korban pun semakin banyak yang berjatuhan akibat gas air mata dan entah lainnya.

Sepanjang  malam saya tidak bisa tidur nyenyak walau badan sangat letih. Hati saya masih terluka. Mengapa hati kami harus terpisah hanya karena situasi dan kondisi? Apakah benar bahwa hati itu memang sudah tak ada lagi hanya karena urusan  uang dan jabatan? Apakah memang Allah itu dianggap tidak lagi ada, dan atasan yang hanya manusia biasa  jauh lebih ditakuti? Entahlah.

Semoga Allah memberikan hidayah bagi mereka yang sudah kehilangan hatinya.

 

Bandung, 24 Mei 2019

02:38 WIB

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *