Keledai Durjana Memang Tak Memiliki Kemaluan

Sudah suaranya parau, teriaknya kencang dan kasar pula, tidak juga memiliki rasa malu. Kerjanya hanya membuat malu, mempermalukan, dan menunjuk jari untuk menutupi semua kemaluannya yang sudah hilang. Tidak ada setitik pun kemaluan yang tersisa, walau merasa otak masih dimiliki. Padahal, otak yang sudah berantakan itu tidak ada isinya lagi jika tidak memiliki kemaluan sama sekali. Semua yang dipikirkan dan diucapkan hanyalah menjadi fatamorgana keledai pemimpi di siang bolong yang membuatnya menjadi durjana.

Mengikuti apa yang dilakukan para keledai ini pernah membuat saya marah, namun kini sudah tidak ada lagi marah yang tersisa. Saya hanya tertawa dan tersenyum saja menyaksikan setiap tingkah polah dan kata-kata yang mereka ucapkan. Biarlah saya dibilang sombong sekalipun, tetapi memang tidak ada gunanya menanggapi mereka, keledai memang bukan kuda. Tidak perlu dibandingkan, karena memang tidak sebanding, apalagi para keledai durjana yang sudah tak berkemaluan itu.

Para keledai durjana tak berkemaluan itu mengira bahwa kuda adalah sesamanya, yang masih masuk dalam kaum keledai penonton, amat sangat membuat dan menjadi tontonan, dan percaya sekali hanya dengan apa yang ditontonnya. Malas untuk berpikir, kaca mata kuda yang dipakai dengan kukuh itu pun tidak mau dilepas, karena itulah satu-satunya yang membuat mereka merasa bangga dan bisa tetap menjadi tontonan. Sama sekali tidak penting bagi saya pribadi.

Rasanya memalukan saja, di zaman menuju era industri 4.0, masih juga ada para keledai primitif yang tidak sanggup mengikuti perkembangan jaman. Masih berkutat dengan strategi primitif dan bangga dengan segala keprimordialan yang dilakukan. Bukan hal aneh jika merasa sangat hebat juga, karena memang tidak sanggup untuk mengerti. Era di mana kemaluan itu sangat penting karena etika dan moral menjadi bekal utama, demokrasi, keterbukaan, kejujuran, berbagi, dan pengendalian ketamakan serta kerakusan itu tidak akan pernah sanggup dicerna. Mau pakai otak terbaru sekalipun, tidak akan sanggup mereka mengunyahnya, apalagi menelannya. Kemaluan yang sudah hilang membuat mereka menjadi sangat terbatas dan hanya hidup di sebatas kolam miring yang sudah mengering.

Saat ini, silahkan sajalah lakukan apapun yang mau dilakukan. Para keledai durjana tak berkemaluan ini hanya sanggup berbuat jahat, kemaluan yang merupakan hatinya sendiri sudah tidak ada. Tidak perlu berharap mereka berubah juga, biarkan keledai tetap menjadi keledai. Biarkan mereka terus terpuruk akibat tingkah polah mereka sendiri dan menjadi durjana yang durhaka. Kemaluan yang sudah hilang tidak akan pernah kembali selama mereka memang hanya sanggup mempermalukan orang lain dengan teriakan dan suara paraunya itu.

Saya hanya ingin berkata, “Selamat tinggal keledai durjana! Tidak akan pernah sanggup kalian mengejar kuda yang berlari dengan kencang. Daripada kalian terus menggali lubang sendiri, lebih baik siapkan diri untuk segera masuk ke dalam kandang-kandang yang sudah menanti dan terbuka lebar. Bye!”

Jakarta, 23 April 2014

 

Mariska Lubis

2 thoughts on “Keledai Durjana Memang Tak Memiliki Kemaluan”

Leave a Reply to eko Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *