Ketika Dungu Itu Bukan Lagi Fiksi

Setiap kali dengar kata dungu, saya jadi selalu teringat dengan sebuah literatur drama yang dibuat oleh seorang penulis Yunani di masa lalu, bernama Euripides. Drama itu berjudul “The Bacchae/The Bakkai” yang menceritakan tentang sebuah tragedi yang terjadi di kerajaan, di mana raja dan ibunya mendapatkan hukuman dari dewa karena tidak mau menyembah dewa tersebut. Ada sebuah quote dari drama ini yang terkenal, “Talk sense to a fool and he calls you a foolish” dan menurut saya ini adalah sebuah fakta, bukan sekedar sebuah pernyataan fiksi walaupun berdasarkan dari imajinasi yang menghasilkan pemikiran dan dituangkan lewat kata-kata. 

 

“Siapa yang paling pandai memainkan boneka keledai?”

Sumber gambar: http://www.doitecofashionshow.com/-stupid-donkey-design-plush-hand-puppet

Begitu juga dengan apa yang diungkapkan oleh Jean-Paul Satre, seorang filsuf asal Perancis yang menyebutkan bahwa “Stupidity is too innocent and foolish to be castigate with satire”. Fakta dan kenyataannya memang demikian, terlalu sulit untuk bisa membuat orang bodoh itu mengerti bahasa satir.  Repot sendiri jadinya bila bicara dengan menggunakan satir kepada orang-orang tersebut. Untuk membedakan mana fiksi dan fiktif tidak mampu, lantas bagaimana pula bisa dianggap tidak dungu. Toh, paling bisanya hanya gertak, marah, melaporkan karena merasa terancam, dan itu sebenarnya justru tidak membuktikan bahwa mereka itu seolah mengerti, tetapi sebaliknya. Sekali lagi, ini fakta bukan fiksi yang fiktif.

Pemikiran-pemikiran tersebut membuat saya juga berpikir, bahwa memang benar adanya bila kita diajarkan untuk bicara hanya dengan “kaum” kita sendiri saja. Tidak ada maksud untuk menghina atau kemudian menjadi rasis dalam hal ini, tetapi menjadi sebuah kesia-siaan bila bicara pada orang yang tidak mengerti atau tidak mau belajar untuk mengerti. Berhubung orang-orang tersebut biasanya paling takut dibilang bodoh, dan harus selalu dianggap pintar, maka pada akhirnya kita sendiri yang akan rugi. Mereka akan menyerang dengan segala macam cara, bukan lagi untuk membicarakan apa yang seharusnya dibicarakan, tetapi ujung-ujungnya hanya untuk menunjukkan gigi saja, agar tidak dianggap bodoh. Jadi jangan heran bila tak nyambung, ini sebuah kenyataan pahit bukan fiktif belaka, mau diterima silahkan tidak pun tidak ada yang melarang.

Memang menjengkelkan kalau kita harus berhadapan dengan orang yang tidak juga paham dan mengerti, tapi menurut saya, kita yang lebih pintar yang seharusnya bisa lebih mengerti. Seperti kata Napoleon Bonaparte, “In politics, stupidity is not handicap”. Kita justru bisa mendapatkan keuntungan dari orang-orang dungu dan bodoh. Biarkan saja mereka terus menjadi bodoh juga semakin sombong, karena itu sama saja seperti sedang menggali lubang kuburan mereka sendiri. Semakin mereka takut dianggap bodoh dan dungu, semakin berantakan juga langkah yang akan mereka ambil. Ditambah lagi dengan kesombongan yang ada, maka lubang yang digali itu semakin dalam dan terus semakin dalam. Bagus, kan?! Kalau ini mau dianggap sekedar fiksi atau fakta, tidak ada masalah.

Seperti contohnya saja soal keblunderan dalam pernyataan-pernyataan, nanti ada revisi, ada yang ditinjau ulang, ada yang dicabut begitu saja tanpa ada rasa perasaan bersalah karena sudah terlebih dulu melemparkannya ke publik. Belum lagi kebingungan sebenarnya gaji pegawai negeri itu dibayar oleh siapa dan siapa juga yang sebenarnya membiayai jalan tol, dan siapa yang sebenarnya pemilik dari jalan tol. Kita memang tidak akan pernah mengerti apa yang mereka maksudkan, mereka juga tidak akan mengerti apa yang kita ributkan dan persoalkan. Semuanya hanya akan menjadi bahan politik yang dianggap menguntungkan mereka, namun ya itu kan hanya sekedar fiksi, jadi buat saya tidak perlu dikhawatirkan. Manfaatkan saja semua kedunguan dan kebodohan itu, toh apa yang dimaksudkan dengan hal ini juga tidak akan dimengerti.

Tulisan ini memang hanya untuk kaum yang mengerti saja, bukan untuk yang tidak mengerti. Kalau  pun dianggap sebuah kebodohan, ya wajar juga, memang begitulah adanya. Percuma bicara”pintar” kepada orang bodoh, mereka yang akan meneriaki kita sebagai orang bodoh dengan keras, lantang, dan penuh kemarahan. Kita, cukup tertawa dan senyum saja. Maklumi sajalah, ya! Beginilah jika kedunguan itu bukan lagi fiksi.

NB: Tulisan ini adalah bentuk dukungan terhadap Rocky Gerung yang merdeka dalam berpikir dan berpendapat. Hanya orang dungu saja yang memenjarakan pikiran dan pendapat.

Bandung, 04 Februari 2015

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *