“Bohong Atau Kalah!” – Trend Strategi Politik Usang Yang Masih “In”

Berapa banyak di antara kita yang sudah lelah dengan berita hoax yang beredar di masyarakat? Yang pasti, saya sudah sangat lelah dengan hal ini, apalagi sosial media mempermudah peredaran berita hoax ini. Ditambah lagi dengan malasnya masyarakat untuk mengecek, belajar, dan mempelajari segala sesuatunya, lebih sering mengambil jalan pintas dan enaknya saja, peredaran hoax pun menjadi semakin mudah. Gilanya, kemudian hoax ini juga digunakan untuk membuat masyarakat semakin kebingungan, tidak tahu mana yang benar dan salah lagi, sehingga yang diandalkan hanya soal suka dan tidak suka saja, tanpa menggunakan logika. Kebenaran itu pun pada akhirnya tergantung pada masing-masing saja, pokoknya kalau tidak suka ya salah, kalau suka salah pun pasti benar. Inilah yang kemudian membuat juga para politisi menggunakannya untuk mendapatkan kemenangan. Bohong atau kalah!

Sumber: http://alpha411.blogspot.com/2016/09/americans-trust-in-mass-media-sinks-to.html

Bukan hanya terjadi di Indonesia, politisi yang melakukan kebohongan untuk menang juga dilakukan di berbagai negara di dunia ini. Bahkan Donald Trump pun sedang menghadapi tuduhan sudah melakukan banyak dusta, menyangkal apa yang sudah diucapkannya sendiri pada saat kampanye. Tidak hanya politisi, perusahaan-perusahaan besar seperti Facebook dan FB pun sudah melakukannya. Mereka melakukan penjualan data, praktek mata-mata, dan lainnya demi meraup keuntungan dan kepentingan politik. Sudah banyak tuduhan yang menyebutkan bahwa mereka terlibat dalam upaya pembohongan publik ini untuk memenangkan pihak tertentu. Media massa pun tidak mau ketinggalan sehingga suasana politik semakin tidak karuan lagi. Kredibilitas media massa terus dipertanyakan di seluruh dunia ini. Tak heran bila strategi politik using ini terus “In” dipakai dan digunakan untuk mendapatkan kemenangan dan kekuasaan.

Memang dusta itu dari dulu sudah dipakai dalam politik untuk mendapatkan kekusasaan, harta, dan kemenangan. Dusta dan manipulasi ini sudah sampai begitu berakarnya, bahkan dunia pendidikan pun mempercayainya dan dilakukan oleh tokoh-tokoh yang hebat, pintar, dan terkenal serta berpengaruh di dunia ini. Salah satu contohnya adalah tentang bank, di mana kita dibuat yakin bahwa kita memang butuh pinjaman untuk bisa membangun, membeli, dan lain sebagainya. Kita tidak dididik untuk bisa membangun atau membeli sesuatu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita, tidak dilatih untuk berproses, tapi selalu ingin selalu serba cepat dan instant. Sementara untuk berdagang saja, bila kita mendapatkan modal dari pinjaman dengan bunga yang lumayan, kita sebenarnya hanya capek membayar bunga bank, kita kerja untuk bank, mengejar setoran untuk bayar hutang dan bunga. Ini adalah sebuah pembodohan yang menurut saya pribadi merupakan konspirasi yang dilakukan dunia kepada masyarakat dunia. Pembodohan itu memang terjadi, diakui tak diakui, disadari tak disadari.

Kita lihat saja juga dengan konspirasi yang dilakukan untuk pembuhan terhadap Islam yang sebenarnya sudah dilakukan sejak lama tetapi meledak setelah terjadi peristiwa 9/11 di Amerika Serikat. Dunia ini dibuat takut oleh Islam, yang dikenal dengan Islamophobia, apalagi kemudian ada ISIS, Taliban, dan lain sebagainya yang sebenarnya bila mau diperhatikan dan dipelajari serius, hanya olah-olah dalam bisnis, politik, dan untuk mendapatkan kekuasaan. Herannya, banyak orang yang mengaku muslim pun percaya dengan hal ini, hingga kemudian menggunakannya untuk melakukan tuduhan-tuduhan yang semakin memecah belah Islam itu sendri. Ada yang menuduh garis keraslah, inilah itulah, yang sebenarnya juga jika diperhatikan, adalah untuk kepentingan mendapatkan tempat atau posisi atas paham atau keberadaannya di masyarakat. Ya, rebutan pengikutlah kasarnya.

No caption

Sumber: https://www.radionz.co.nz/programmes/pants-on-fire/story/2018624370/pants-on-fire-ep-5-the-tangled-web

Khusus untuk di Indonesia, sebenarnya kita bisa mencontoh dari apa yang sedang terjadi di Amerika Serikat dan juga banyak Negara Eropa. Kesemrawutan akibat kebohongan atau penipuan terhadap publik dengan segala janji dan harapan itu tidak akan memberikan kebaikan apapun. Orang bisa berjanji dengan mudah, yang paling sulit adalah menunaikan janji, itu saja dulu yang paling mudah untuk dipahami sebenarnya. Masyarakat Indonesia pun seharusnya sudah memiliki pengalaman akan hal ini, sayangnya kembali lagi kepada karena faktor kebiasaan akibat pembodohan dan manipulasi yang terjadi bertahun-tahun di dunia ini, pada akhirnya tidak lagi mau tahu soal ini. Semua jadi dibatasi oleh rasa suka dan tidak suka lagi, oleh karena itu debat pun tidak lagi menjadi sesuatu yang mengasyikkan, karena tujuannya hanya menang dan kalah berdasarkan suka dan tidak suka. Padahal debat itu ditujukan untuk bisa mendapatkan hasil yang lebih baik, menang atau kalah bukan tujuan utama, sebab tentunya semua masyarakat ingin mendapatkan kehidupan dan masa depan yang lebih baik. Sesuatu yang salah tidak perlu dianggap benar, bila salah ya salah dan harus diperbaiki. Sesuatu yang benar pun jangan dianggap salah hanya karena dari “kubu” yang berbeda. Demokrasi memang sangat membutuhkan wawasan, kedewasaan, kebijaksanaan, dan kemauan serta keberanian untuk menjadi yang beradab. Jika tidak, maka akan terus jatuh ke dalam lubang yang sudah dibuat oleh strategi politik Bohong atau Kalah.

Yah ini sih sekedar pemikiran saya saja. Setuju tidak setuju itu pilihan masing-masing, dan saya berharap semua memiliki pendapat dari hasil pemikirannya sendiri. Mau bawa-bawa nama besar dan pemikiran orang hebat pun, menjadi percuma jika tidak mampu mencerna kemudian menghasilkan pemikiran sendiri. Kebodohan itu harus dihentikan jika ingin mendapatkan masa depan dan kehidupan yang lebih baik. Jika tidak dihentikan maka kita akan terus terjerumus oleh strategi pollitik Bohong atau Kalah, apalagi sekarang sedang trend dan marak dilakukan di seluruh dunia.

Semoga berguna dan bermanfaat.

 

Bandung, 12 Januari 2019

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *