Sekedar Catatan Malam 22/11/2018 02.11 WIB

Malam masih berkabut setelah hujan lebat sejak sore tadi. Seekor tikus besar menatap penuh harap, seolah meminta agar diijinkan untuk masuk ke dalam rumah. Meskipun tidak suka, tapi tidak apalah, kasihan juga. Barangkali dia lapar atau kedinginan, berbagi sedikit dengannya tidak akan membuat saya mati kelaparan atau susah. Namanya juga tikus, binatang mamalia, dia hanya bisa berusaha untuk bisa tetap bertahan hidup dan meneruskan keturunannya.

Lain lagi dengan tanaman yang juga ada di depan mata. Mereka tidak menampakkan susah sama sekali walaupun pagi sampai siang tersengat matahari dan lalu tiba-tiba diguyur hujan sepanjang sore hinggga malam. Bunga-bunga yang menyembul di antara dedaunan itu, malah sepertinya semakin segar dan cantik. Apakah mereka tidak merasa kedinginan, ya? Mungkin mereka punya energy yang lebih banyak karena tidak memiliki kemampuan untuk berpikir dan memilih, apalagi untuk memiliki kemampuan untuk belajar. Sama sebenarnya dengan tikus tadi, mereka hanya berdasarkan naluri dan kepasrahan saja, yang penting bisa hidup dan terus berkembang biak. Sementara manusia, lain lagi ceritanya.

Kemarin saya terkejut dengan pertanyaan seseorang yang berkata bahwa dia menulis untuk uang. “Tidak usah munafik, saya menulis karena uang,” katanya. Saya tidak mempermasalahkan hal ini, karena kebanyakan orang memang berpikir bahwa yang nomor satu adalah uang karena jelas uang dibutuhkan untuk  memenuhi kebutuhan hidup. Banyak juga yang memang menggunakan kemampuannya menulis sebagai profesi yang menghasilkan pendapatan, seperti para wartawan, buzzer, dan lain sebagainya. Namun saya pikir, rasanya aneh juga kalau yang dipikirkan hanya soal uangnya saja, tetapi tidak dipikirkan bagaimana pengaruh atas tulisan dan segala perbuatan yang dilakukan karena berpikir tentang uang semata. Bagi saya, ini tidak ada bedanya dengan tikus dan tanaman tadi, pikirnya hanya untuk bertahan hidup saja, tidak lebih dari itu. Untuk berpikir bahwa bertahan hidup saja seharusnya ada banyak hal penting lain yang perlu dipikirkan. Contoh, jika menulis hanya untuk uang dan melakukan plagiat begitu saja, apakah tidak merasa sudah merugikan orang lain?!

Tidak ada yang melarang untuk hanya berpikir soal uang, hanya caranya saja yang menurut saya sebaiknya dipikirkan baik-baik. Efek dari tulisan itu bisa sangat panjang dan berpengaruh. Peradaban manusia itu dimulai sejak ada tulisan, dan segala perubahan yang terjadi di dunia ini sangat dipengaruhi oleh tulisan. Jika hal ini tidak disadari, maka sama artinya tidak peduli dan bisa dikatakan sangat egois. Jika memang tidak tahu, ini lain lagi ceritanya. Ketidaktahuan ini lumrah, masih ada kesempatan untuk belajar, tetapi kalau tidak tahu dan tidak mau belajar juga, ya ini mau bilang apa?! Yang penting tidak lalu mengeluh, marah-marah, dan menunjuk jari saja kemudian.

Tapi sudahlah, untuk apa juga pusing memikirkan hal ini. Tidak ada guna memikirkan orang-orang yang memang tidak ingin maju, itu adalah pilihan. Semua orang bebas untuk berpikir dan mengambil keputusan, toh semua ada resiko dan konsekuensinya masing-masing. Saya masih percaya bahwa setiap aksi ada reaksi, dan ini bisa diartikan bahwa setiap perbuatan pasti ada hasilnya. Baik atau buruk sangat tergantung dari diri kita sendiri, apa yang sudah kita perbuat. Sekarang lebih baik fokus memikirkan, apa yang mau diperbuat untuk masa depan? Bila macan pun meninggalkan belang, gajah meninggalkan gading, apa yang akan saya tinggalkan untuk kehidupan di masa nanti? Yang pasti bukan hanya sekedar harta benda ataupun nama, yang bisa hilang dan terhapus hanya dalam sekejap.

Mariska Lubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *