Pemikiran Yang Salah Kaprah Namun Membudaya Haruskah Dipertahankan Dengan Alasan Budaya?

Sudah terlalu sering saya mendengar budaya menjadi alasan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah atau kurang tepat. Budaya dijadikan tameng, dan apa kata orang itu menjadi lebih penting dari kebenaran terima dan mau dibilang bodoh. Mau dibilang pintar pun, kenapa tidak juga berpikir lebih maju agar budaya yang salah itu diubah menjadi yang benar? Apakah memang semua budaya itu sudah pasti benar hanya karena sudah menjadi budaya yang dibenarkan dan bahkan diyakini banyak orang? Bagaimana bila budaya itu sendiri sudah bertentangan dengan ajaran agama yang katanya diyakini dan diimani, bahkan diikuti sebaik mungkin, apakah tetap harus dipertahankan?

@mariska.lubis

Sudah bukan satu dua orang lagi pasangan muda yang bercerita kepada saya bagaimana mereka sulit untuk menikah, karena mereka belum sanggup memenuhi segala persyaratan yang diberikan oleh orang tua mereka. Persayaratan itu sebenarnya bukan persyaratan utama yang memang diwajibkan dalam agama, namun lebih kepada karena budaya yang dilakukan oleh kebanyakan orang dan dibenarkan. Antara lain adalah pesta pernikahan yang memakan biaya banyak, dan seringkali membuat pasangan baru menikah terjebak dengan hutang justru pada saat baru saja memulai membangun rumah tangga.

Orang tua mereka mudah saja alasannya, selain karena sudah budaya yang seharusnya seperti itu, apa kata orang, dan juga alasan untuk menghormati mereka, sementara contoh yang baik dan benar sudah ditunjukkan bahkan bagi yang beragama muslim, Nabi Muhammad SAW yang merupakan junjungan, sudah mencontohnkannya. Aneh juga bila apa yang dicontohkan oleh beliau, yang seharusnya dibenarkan ditiru, justru kalah oleh budaya dan apa kata orang serta keinginan.

Terus terang saja saya tidak habis pikir, apalagi dalam situasi dan kondisi ekonomi yang sedang tidak sehat beberapa tahun terakhir ini, kenapa harus sampai begitu memaksakannya? Sementara ada prioritas yang lebih penting dan jauh lebih berguna dan bermanfaat, selama semua syarat utama pernikahan itu dilakukan, maka tidak perlu ada yang berlebihan. Kalau menurut saya pribadi, malah lebih menjadi berkah bila diberikan saja kepada yang tidak mampu dan membutuhkan bila memang ada uang lebih. Atau, paling tidak digunakan sebagai modal awal untuk membangun masa depan, jangan sampai menjadi kacau balau kemudian hari hanya karena pemborosan percuma akibat urusan pernikahan. Lagipula, kenapa harus sampai dipersulit urusan menikah jika sadar penuh sebenarnya bahwa perilaku demikian tidak baik.

@mariska.lubis

Tentunya semua orang tua ingin anaknya bahagia, namun dibutuhkan kedewasaan dan kebijaksanaan dari orang tua untuk bisa membuat anak menjadi bahagia. Memuliakan orang tua itu memang diwajibkan, tetapi jangan sampai juga orang tua menjadi egois dan banyak menuntut dari anak. Keikhlasan kasih sayang dan cinta orang tua sepatutnya ada, dan tidak perlu ada tuntutan timbal balik, semampu dan seikhlasnya anak di dalam memberikan yang terbaik bagi orang tua adalah yang terbaik.

Belum tentu apa yang membuat orang tua bahagia itu benar adalah yang terbaik dan membahagiakan anak itu sendiri, orang tua juga manusia yang tetap bisa melakukan kesalahan. Jangan sampai kesalahan orang tua itu kemudian pun menjadi beban bagi anak, apalagi sampai harus menanggung hutang yang sudah pasti sangat berat. Jika anak berani untuk memegang kebenaran walaupun itu jauh dari kebenaran yang dipegang oleh budaya dan dinilai buruk oleh orang lain, maka apakah anak menjadi salah? Bukankah memang sudah sepatutnya setiap manusia itu lebih memilih kebenaran Allah daripada kata manusia dan budaya yang salah kaprah?

Entahlah, terkadang saya pusing menghadapi yang seperti ini. Dunia ini jadi seperti terlalu banyak yang diputar balik hanya karena kepentingan dan keinginan saja, kebenaran yang sesungguhnya pun hanya dipakai sebagai alasan pada saat yang dibutuhkan, sementara pada saat yang lain justru diabaikan. Sedemikian sulitnya untuk konsisten dan berani memegang teguh kebenaran, hanya karena urusan budaya dan kata orang saja sudah kalah.

all by @mariska.lubis

Kasihan betul nasib anak-anak muda ini, mereka justru diberikan contoh bahwa tidak konsisten itu tak apa selama ada alasan, sehingga munafik itu jadi benar pada saat-saat tertentu. Mereka juga diajarkan untuk tidak berprinsip dan tidak berkepribadian karena harus mendahulukan apa kata orang, dan mereka juga diajarkan egois serta tidak ikhlas. Yang parahnya lagi menurut saya, mereka malah diminta untuk menduakan Allah, karena kata orang dan budaya adalah lebih penting daripada ajaran Allah itu sendiri. Ampun!

Bandung, 19 September 2018

 

Salam hangat selalu,

 

 

Mariska Lubis

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *