Mercu Suar Pun Sudah Diganti GPS, Deh!

Tentunya masih banyak yang paham soal politik mercu suar, kan? Politik yang dilakukan hanya untuk menunjukkan kehebatan di kasat mata saja dan hanya pada “persepsi” yang dibuat, bukan hebat pada fakta dan kenyataan yang sebenarnya. Hal ini tentunya masih terus dilakukan dan memang susah membuat orang itu benar mau belajar dari kesalahan, nafsu itu terlalu mudahnya menguasai. Padahal, mercu suar itu sendiri sudah digantikan fungsinya oleh GPS yang bisa menunjukkan arah lebih akurat lagi. Jadi, percuma saja kalau masih pakai politik mercu suar, karena sekarang ini semua bisa terlihat lebih jelas dan gamblang terutama oleh mereka yang mau berpikir dan benar melihat.

Sumber: https://travelingyuk.com/pulau-mercusuar/17875/

Saya sampai tertawa sendiri mendengar pernyataan seseorang yang meminta untuk tidak berpikir agar tidak terbawa arus yang tidak-tidak. Kalau tidak boleh berpikir lantas harus bagaimana, harus manut saja sementara arus yang salah itu lebih kuat tarikannya dibandingkan dengan arus yang benar. Lagipula kemampuan berpikir adalah anugerah Allah kepada manusia, sehingga berpikir sebenarnya juga adalah salah satu cara untuk bersyukur atas anugerah yang diberikan kepada manusia. Kalau mau hanya menurut saja, Allah sudah menciptakan malaikat dan bila hanya mau menggoda serta menyesatkan, setan juga sudah ada. Manusia diberikan kemampuan berpikir sebagai makhluk paling sempurna, masa lantas dilarang berpikir.

Kalau masih ada yang terlena dengan segala kehebatan pembangunan sipil dan infrastruktur yang dibangun di negeri ini, dan menganggap bahwa semua itu adalah keberhasilan, saya hanya bisa tertawa dalam hati saja. Saya tidak mau berdebat karena percuma saja, tidak ada gunanya. Benar bahwa pembangunan sipil dan infrastruktur itu penting, tetapi bukan berarti itu adalah bukti keberhasilan dari pembangunan. Percuma saja kalau semua itu dibangun oleh hutang yang kemudian menjadi tanggungan seluruh rakyat Indonesia saat ini dan bahkan sampai anak cucu kita ke depan nanti. Kita sendiri paham bagaimana sulitnya membangun dan maju bila terlilit oleh hutang, lantas kenapa masih juga bangga akan segala yang dibangun bila semuanya adalah hasil dari hutang?!

Sama saja menurut saya seperti istilah dalam bahasa sunda “Hejo ku kuda beureum“, atau “Hijau oleh kuda merah”, yang maksudnya adalah berpenampilan hebat tapi bukan karena diri sendiri, ya karena hutang. Tampil “wah” dan gaya, seolah kaya dan punya segalanya, tetapi setiap bulan ribet sendiri karena harus bayar hutang yang tak pernah habis-habis. Bagaimana mau habis, soalnya ditambah terus, sih! Lagipula untuk apa gaya-gayaan bila pada akhirnya menyusahkan diri sendiri saja, ada banyak hal lain yang lebih penting daripada sekedar dipandang oleh orang lain. Sederhana dan apa adanya itu jauh lebih menyenangkan daripada pusing terus untuk bayar hutang!

Bila tidak mau berpikir dan apalagi dilarang berpikir, tentunya tidak akan pernah paham apa yang saya maksudkan. Lebih mudah ikut saja dengan trend dan arus yang ada saat ini, yaitu gaya nomor satu dan hutang itu biasa. Pembangunan pun hanya dilihat dari gedung-gedungnya saja, bukan dari isinya, yang membuat politik mercu suar tetap mampu terus ada dan bisa terus mengelabui banyak orang. Memang betul, lebih enak tidak usah berpikir dan terima apa adanya saja, kalau ada masalah tinggal teriak-teriak, protes, atau nangis meraung-raung tidak terima karena kebodohan yang sama. Mana ada pintar yang tidak tahu kesalahannya sendiri, hanya orang yang malas berpikir saja yang selalu mencari jalan pembenaran dan membenarkan kesalahan sekaligus menutupi kesalahannya sendiri, lalu menunjuk jari, deh!

Sudahlah, sekarang ini sudah tidak kena lagi politik mercu suar, bukti itu walaupun diputar balik tetap saja ada yang bisa membuktikan kebenaran yang ada. Teknologi semakin canggih dan semakin banyak juga orang yang tidak mau tertinggal dengan terus berpikir maju ke depan. Walaupun tidak semua, tetapi yang namanya kebenaran itu pasti akan menang, mau diapakan juga tetap kebenaranlah yang menang. Bukan berarti kemudian hanya cukup diyakini, tetapi dengan berpikirlah kemudian kita bisa mengerti dan paham mengapa kebenaran itu akan menang. Buktinya mudah saja, lebih enak bebas dari hutang daripada punya banyak hutang terus, kan?!

Intinya, jangan kebanyakan membodohilah, pada akhirnya kebenaran yang sebenarnya itu akan muncul. Jangan kebanyakan gaya dan diam saja kalau tidak paham.

Bandung, 6 Juli 2018

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *