Memilih Untuk Tidak Memilih

Pemilihan Kepala Daerah serentak baru saja dilaksanakan di Indonesia, termasuk juga di kota Bandung dan propinsinya Jawa Barat. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya tetap memilih untuk tidak memilih. Bagi saya, tidak ada pilihan yang pantas untuk dipilih, sehingga lebih baik tidak memilih, terus-menerus memilih yang tidak pantas apapun alasannya tidak akan memperbaiki keadaan Indonesia. Jikapun kemudian suara saya dipergunakan secara salah, maka itu menjadi bukti bahwa memang pemilihan umum yang ada saat ini bukanlah sebuah bentuk dari demokrasi, tetapi adalah sekedar sarana untuk melakukan penipuan secara massal.

Sumber: https://www.viva.co.id/berita/politik/1048553-kotak-kosong-menang-di-tiga-tps-pilkada-tangerang

Berulang kali saya ditanya oleh baik teman maupun keluarga, kenapa saya tidak pernah mau ikut pemilihan umum daerah maupun pemilihan umum untuk memilih presiden Indonesia. Malah keluarga saya malu sendiri karena mereka pun ditanya oleh para panitia pengurus yang mempertanyakan kenapa saya tidak hadir, dan saya pun ditegur. Saya hanya tertawa saja, terserah saja orang mau memilih atau tidak, itu adalah pilihan juga. Saya memilih tidak memilih, dan itu adalah pilihan yang saya ambil secara sadar penuh. Saya tidak mau melakukan kesalahan yang pada akhirnya bukan hanya merugikan diri saya sendiri tetapi seluruh rakyat Indonesia.

Ada yang bilang juga bahwa saya ini sudah melakukan kesalahan besar karena lebih baik memilih daripada tidak, karena memilih adalah sama dengan ikut serta berperan untuk masa depan bangsa dan negara. Ya, saya tidak menyangkal bahwa semua pemilih sudah melakukan peranan bagi masa depan bangsa dan negara, tetapi bila peran yang dilakukan itu adalah untuk kembali merusak dan menghancurkan bangsa dan negara, bukan untuk menjadi lebih baik, maka untuk apa saya ikut berpartisipasi? Sudah jelas terbukti bahwa tidak ada kejujuran, keadilan, kebenaran, dan apalagi kepentingan rakyat di dalam setiap pemilihan umum yang ada. Sebagai rakyat, hanya diminta untuk memilih sementara untuk menentukan siapa yang akan menjadi calon pun tidak ada yang bisa dilakukan, semua ditentukan oleh partai. Sementara gaji dari para pegawai pemerintahan ini berasal dari uang rakyat, namun partai dan berbagai komunitas tertentu lainnya dianggap lebih penting. Untuk apa saya memilih pegawai dan menggaji pegawai yang tidak mau bekerja untuk saya, kan?!

Ya, saya memang sejak dulu sangat keras dalam hal ini dan ini adalah prinsip yang saya pegang. Saya diajarkan di dalam agama yang saya anut, saya diminta untuk selalu belajar dan berpikir, diberikan juga kebebasan untuk menentukan pilihan yang benar. Pilihan yang salah sebaiknya dihindari dan jangan dilakukan. Oleh karena itu ketika ada pilihan yang salah, yaitu maka saya tidak akan melakukannya. Ikut serta dalam pemilihan umum adalah pilihan yang salah menurut saya, dan karena itu juga saya tidak mau melakukannya. Itu saja sebenarnya. Hati dan pikiran saya tidak berkenan melihat rakyat yang terus menerus hanya dijadikan alat untuk mendapatkan kekuasaan dan uang, untuk kepentingan politik sebab itu sungguh sangat tidak manusiawi dan bertentangan jauh dengan ajaran kebenaran yang saya yakini. Manusia harus diperlakukan secara manusiawi dan sebagaimana layaknya manusia, dihormati dan disayangi, sebagaimana yang diperintahkan olehNya, bukan hanya dijadikan permainan dusta dan manipulasi politik. Kenapa rakyat tidak diberikan tempat yang terhormat dalam bernegara, kenapa selalu dijadikan seperti bola yang disepak dalam setiap permainan sepak bola?!

Jika mau saling menyalahkan, lantas siapa yang sebenarnya salah? Bukankah begitu yang biasa kemudian kita pertanyakan? Bagi saya, rakyat Indonesia sendiri yang mau saja terus dibodohi dan ditipu. Malas berpikir dan tidak memiliki keyakinan serta kepercayaan yang kuat atas kebenaran itu sendiri. Terlalu takut dengan kekuatan manusia yang lebih kuat, tidak mau menjadi diri sendiri dan lebih senang ikut-ikutan, sementara keyakinan terhadap kekuatan besar yang tidak terkalahkan itu hanyut larut begitu saja ditelah segala tipu daya dan muslihat yang dilakukan oleh manusia dengan segala akal dan ketamakannya. Selama kita merasa hanya sebagai orang yang lemah dan selalu membutuhkan orang yang lebih kuat, maka kemerdekaan itu tidak ada, apalagi karena yang lebih kuat cenderung hanya memanfaatkan yang lemah saja. Jadi, jangan harap untuk merdeka bila masih terus merasa membutuhkan orang yang lebih kuat, takut pada kekuatan manusia, dan tidak merasa bahwa kita selalu sudah dicukupi segala kebutuhan kita oleh Yang Maha Kuasa. Teruslah menderita dan sengsara!

Ini adalah pandangan dan juga prinsip yang saya pegang selama ini, sadar penuh bahwa segala sesuatu memiliki resiko dan tanggung jawabnya masing-masing. Setiap kebebasan dan hak juga harus selalu diimbangi dengan rasa tanggung jawab dan usaha untuk memenuhi kewajiban. Tidak ada yang mewajibkan saya untuk memilih, memilih adalah hak, namun saya memiliki kewajiban untuk berpegang teguh pada kebenaran dan bertanggung jawab untuk menjaga kebenaran itu bagi kepentingan semua dan bersama. Oleh karena itulah, saya tetap tidak akan pernah memilih selama kepalsuan dan manipulasi terus berlanjut, saya baru akan memilih bila kebenaran benar ditegakkan dan rakyat adalah benar prioritas utama, bukan hanya sekedar objek permainan politik.

Bandung, 3 Juni 2018

Salam hangat selalu,

 

Mariska Lubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *