Surat Cinta Terbuka Teruntuk Pemerintah Dan Para Elite Politik

Assalammualaikum Wr. Wb.

Dengan hormat,

 

Hari ini, Senin, tanggal 10 Desember 2018, saya sudah tidak lagi sanggup menahan tangis yang selama ini terpedam. Rasanya hancur sekali hati ini melihat keadaan rakyat, bangsa, dan Negara Indonesia yang saya sangat cintai seperti saat ini. Di mana-mana terjadi pertikaian, perseteruan, sementara rakyat harus juga terus berhadapan dengan fakta dan kehidupan sehari-hari di mana bahan makanan mahal, listrik mahal, sekolah mahal, dan masih banyak lagi kesulitan yang harus dihadapi saat ini. Belum lagi ditambah dengan kebingungan yang entah dibuat sengaja atau tidak sengaja, informasi simpang siur membuat rakyat sulit mengetahui apa yang benar. Kebenaran itu hanyalah merupakan kebenaran yang diklaim oleh masing-masing pihak dan pribadi-pribadi, rakyat hanya terus dijadikan bola yang ditendang ke sana kemari untuk mendapatkan goal pihak-pihak yang berkepentingan

Bodoh. Ya barangkali memang rakyat ini bodoh, namun perlu juga dipertanyakan mengapa sampai rakyat bisa menjadi bodoh? Kenapa rakyat terus dibodohi dan dibuat bodoh? Tidakkah ada rasa di dalam hati yang mampu berpihak pada rakyat selain hanya di mulut? Kata-kata kasar dan kebencian ada di mana-mana, saling tuding menuding pun tidak bisa dihindarkan, sementara untuk mengakui adanya masalah dan kesalahan tidak berani. Bagaimana mau sembuh bila tidak mengakui sakit? Apakah harus menjadi sakit jiwa terlebih dahulu agar tidak perlu tahu lagi apa-apa selain tertawa dan diam? Begitu teganya rakyat dibuat seperti kepala pentul korek api yang mudah terbakar dan lalu habis begitu saja menjadi asap dan arang.

Continue reading Surat Cinta Terbuka Teruntuk Pemerintah Dan Para Elite Politik

Sadar

Senyawa fajar membawa pagi

Awan berkerumun di tepian hari

Ayam berkokok bukan tanpa arti

Ada diri yang menyadari

 

Tetesan air pun datang membawa pesan

Teduh temaran bias kelabu terasa kelu

Singa lapar berlari kencang mencari makan

Kehormatan dan harga diri digadai tanpa malu

Seonggok berllian menggoda perempuan

Tumpukan kekuasaan merayu para lelaki

Siapa yang mampu bertahan?

Terlalu banyak alasan untuk mengingkari

Cukup sudah, waktu terus berlalu

Tumpukan puing masih bisa bernilai

Biarkan mereka pergi seperti angin lalu

Apalah hidup bila tidak ada ikhlas dalam memberi

Bandung, 26 November 2018

13:12 WIB

Mariska Lubis

 

 

 

 

Sekedar Catatan Malam 22/11/2018 02.11 WIB

Malam masih berkabut setelah hujan lebat sejak sore tadi. Seekor tikus besar menatap penuh harap, seolah meminta agar diijinkan untuk masuk ke dalam rumah. Meskipun tidak suka, tapi tidak apalah, kasihan juga. Barangkali dia lapar atau kedinginan, berbagi sedikit dengannya tidak akan membuat saya mati kelaparan atau susah. Namanya juga tikus, binatang mamalia, dia hanya bisa berusaha untuk bisa tetap bertahan hidup dan meneruskan keturunannya.

Lain lagi dengan tanaman yang juga ada di depan mata. Mereka tidak menampakkan susah sama sekali walaupun pagi sampai siang tersengat matahari dan lalu tiba-tiba diguyur hujan sepanjang sore hinggga malam. Bunga-bunga yang menyembul di antara dedaunan itu, malah sepertinya semakin segar dan cantik. Apakah mereka tidak merasa kedinginan, ya? Mungkin mereka punya energy yang lebih banyak karena tidak memiliki kemampuan untuk berpikir dan memilih, apalagi untuk memiliki kemampuan untuk belajar. Sama sebenarnya dengan tikus tadi, mereka hanya berdasarkan naluri dan kepasrahan saja, yang penting bisa hidup dan terus berkembang biak. Sementara manusia, lain lagi ceritanya.

Kemarin saya terkejut dengan pertanyaan seseorang yang berkata bahwa dia menulis untuk uang. “Tidak usah munafik, saya menulis karena uang,” katanya. Saya tidak mempermasalahkan hal ini, karena kebanyakan orang memang berpikir bahwa yang nomor satu adalah uang karena jelas uang dibutuhkan untuk  memenuhi kebutuhan hidup. Banyak juga yang memang menggunakan kemampuannya menulis sebagai profesi yang menghasilkan pendapatan, seperti para wartawan, buzzer, dan lain sebagainya. Namun saya pikir, rasanya aneh juga kalau yang dipikirkan hanya soal uangnya saja, tetapi tidak dipikirkan bagaimana pengaruh atas tulisan dan segala perbuatan yang dilakukan karena berpikir tentang uang semata. Bagi saya, ini tidak ada bedanya dengan tikus dan tanaman tadi, pikirnya hanya untuk bertahan hidup saja, tidak lebih dari itu. Untuk berpikir bahwa bertahan hidup saja seharusnya ada banyak hal penting lain yang perlu dipikirkan. Contoh, jika menulis hanya untuk uang dan melakukan plagiat begitu saja, apakah tidak merasa sudah merugikan orang lain?!

Continue reading Sekedar Catatan Malam 22/11/2018 02.11 WIB

Taman Vertikal Baru Di Rumah Dan Koleksi Anggrek

Saya sangat suka dengan bunga dan tanaman, sejak saya kecil. Bagi saya mereka adalah keindahan yang sesungguhnya yang tidak pernah membuat saya bosan. Lagipula, mereka adalah teman saya bicara setiap hari. Setiap bangun tidur dan sore hari, pada saat saya menyiram mereka, saya selalu berbincang dengan mereka. Tak jarang juga saya memutar lagu-lagu dan membacakan puisi saya untuk mereka dengar, Mungkin kelihatannya seperti orang gila, tetapi tak apalah. Mereka makhluk hidup yang bisa mendengarkan suara saya dengan cara mereka sendiri. Dan, saya sangat senang karena baru dua minggu lalu selesai merenovasi taman vertikal di dalam rumah, di atas kolam tepatnya. Senang sekali bisa melihat anggrek-anggrek koleksi saya jadi semakin banyak berkerumun tepat di depan kamar tidur dan ruang tempat saya biasa menulis dan membaca. Segar!

Exif_JPEG_420

Taman vertikal baru sedang ditata.

Sewaktu saya masih baru lulus SMA dan mulai kuliah di jakarta, saya dan kawan saya memutuskan untuk membuat sebuah toko bunga segar di Mall depan kampus. Pada waktu itu, tahun 1992-an, boleh dibilang hampir tidak ada yang membuat toko bunga segar di Mall, dan kami memberanikan diri untuk memulainya. Saya yang mendesain dan merancang semua rancangan bunganya, dan saya selalu berusaha menggunakan bunga yang masih berakar, bukan bunga potong. Saya ingin orang lebih menghargai tanaman dan mencoba untuk merawatnya, dan saya yakin bila sudah saya hias tentunya akan berbeda. Alhasil, toko kami laris manis apalagi kalau sedang menjelang hari raya dan ada peryaan khusus. Hotel, para pengusaha, dan pejabat pun menjadi langganan toko kami. Sejak saat itu jugalah saya memutuskan untuk mengoleksi anggrek, kembang sepatu, paku-pakuan, suplir, anterium, dan kembang sepatu. Saya sangat jarang sekali pergi ke pertokoan, saya lebih senang berburu tanaman yang saya suka dan menjadikannya koleksi.

Anggrek sisir yang rajin berbunga.

Continue reading Taman Vertikal Baru Di Rumah Dan Koleksi Anggrek

Kapan Bully Di Sekolah Mampu Dihentikan?

Kemarin dua anak saya yang terkecil menangis karena mereka dibully oleh teman-teman mereka di sekolah. Ini bukan yang pertama kalinya terjadi terhadap mereka yang bersekolah di SD Sukarasa 196, KPAD Gegerkalong, Bandung. Sudah sering mereka harus menghadapi bully dan kata-kata kasar yang tidak pantas dilakukan oleh siswa sekolah, apalagi mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, tentunya sulit untuk diatasi oleh guru dan pihak sekolah, sebab apa yang terjadi sudah merupakan rantai dari pendidikan yang salah di rumah dan lingkungan, termasuk yang dilakukan lewat media dan oleh banyak orang. Jika hal ini terus dianggap sepele dan diabaikan, terutama oleh para orang tua serta seluruh masyarakat Indonesia, maka jangan harap kita menjadi negara maju dan berkembang, tetapi akan terus jatuh terperosok dan hancur.

Sebelumnya, mereka bersekolah di SD Isola, juga di Gegerkalong dan saya sengaja memasukkan mereka ke sekolah “rakyat” karena saya ingin mereka benar-benar bisa merakyat. Soal mutu dan kualitas pendidikan, bagi saya sama saja di mana-mana, sangat tergantung kepada cara orang tua mendidik anaknya masing-masing saja. Sekolah mahal dan terkenal pun sudah terbukti tidak mampu menghasilkan manusia-manusia yang bisa memberikan banyak guna dan manfaat serta perubahan yang lebih baik bagi bangsa, negara, dan dunia. Jika hanya soal kemudahan mendapatkan pekerjaan, makan, kedudukan, jabatan, dan kekayaan, itu hanyalah urusan survival dalam kehidupan yang dilakukan oleh seluruh makhluk hidup. Manusia pun sama bisa demikian, karena manusia juga adalah mamalia, namun manusia memiliki kelebihan lain yang membuat manusia bisa berpikir dan memiliki ilmu pengetahuan, lebih dari hanya sekedar untuk menjadi mamalia.

Continue reading Kapan Bully Di Sekolah Mampu Dihentikan?

Happy Batik Day! Selamat Hari Batik! (Bilingual)

October 2nd is Batik Day in Indonesia as a celebration as well as to mark the anniversary of when UNESCO I recognized put batik as a Masterpiece of Oral and on the representative list of Intangible Heritage of Humanity in 2009. This is important to be recognized by the world and especially or Indonesian since Batik is very precious. Batik is not only represent the culture and beauty, but also long history of civilization and philosophy of life. Some might still refuse the existence of Batik because it is seen as for Javanese only, but the the fact that batik is exist in Indonesia throughout the islands and even in the world. The differences is in about the processes of making, the motives, the tools, and the color, each has own character and very much depend on the culture. Batik itsef is a way to draw pictures on the fabric which not only needs skills to do it but also patients. It can takes months to finish just one piece of batik, and its designed should be very thoughtful and full of meaning. That is why we need to appreciate batik, at least we know that Batik is an intangible heritage of humanity in the world.

>Tanggal 2 oktober diperingati sebagai Hari Batik di Indonesia sebagai perayaan sekaligus untuk memperingati hari ketika UNESCO mengakui batik untuk masuk dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia pada tahun 2009. Hal ini patut dikethui dunia dan terutama lagi oleh masyarakat Indonesia sendiri karena batik sangat berharga. Batik tidak hanya melambangkan budaya dan keindahan tetapi juga memiliki sejarah panjang atas peradaban dan falsafah hidup manusia. Sebagian orang mungkin masih menolak mengakuinya karena dianggap hanya sebagai warisan dari budaya Jawa, namun sebenarnya batik ada di seluruh Indonesia dan bahkan dunia. Perbedaannya ada pada cara pembuatan, motif, peralatannya, pewarnaannya, semua memiliki karakter masing-masing dan sangat tergantung pada budaya. Batik sendiri merupakan cara menggambar di atas kain yang tidak hanya membutuhkan ketrampilan tetapi juga kesabaran. Bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk bisa menyelesaikan sepotong kain batik, dan setiap desainnya harus dipikirkan baik-baik serta memiliki arti. Itulah sebabnya mengapa kita harus menghargai batik, paling tidak kita tahu bahwa batik adalah merupakan warisan yang sangat berarti bagi dunia.

@mariska.lubis

Hong Bird Batik – Batik Burung Hong (https://steemit.com/indonesia/@mariska.lubis/batik-doodle-indonesia-6-hong-bird-bilingual)

Continue reading Happy Batik Day! Selamat Hari Batik! (Bilingual)

Benarkah Kita Berada Pada Titik Nadir Kehidupan?

Jika kita melihat keadaan saat ini, segala sesuatunya menjadi simpang siur dan tidak lagi ada kejelasan apalagi kepastian. Ilmu filsafat dan ilmu pengetahuan tidak lagi digunakan untuk mencari kebenaran, hanya digunakan seperti untaian kata-kata yang indah semata. Kata-kata itu sendiri pun bukan untuk menjadi jalan mencari kebenaran, tetapi untuk dijadikan objek perdebatan yang pada akhirnya semuanya menjadi begitu berlebihan. Sementara ketika semua sudah berlebihan dan ekstrim, maka jalan lebar itu begitu terbuka, bukan untuk menjadi lebih maju melainkan justru menuju pada titik nadir kehidupan. Apakah benar memang kita semua sesungguhnya sedang berjalan pada kematian dan kehancuran?!

“Apa yang ada di balik semua yang terlihat oleh mata”? – @mariska.lubis

Percakapan antara saya dan putra sulung saya @marranarayan menjadi sangat menarik untuk dipikirkan lebih lanjut. Kami membicarakan betapa kami sekeluarga tidak ada yang “galur murni”, bahkan untuk menyebutkan kami ini berasal dari suku apapun tidak bisa, kami hanya bisa menyebut kami adalah “orang Indonesia’, yang lahir di kota Bandung, Jawa Barat. Sementara bila melihat sejarah dari leluhur saya saja pun, semuanya sudah merantau dan beradaptasi bahkan “berkembang biak” dengan berbagai suku bangsa dan etnis di dunia ini. Bisa dibilang, kami sangat beruntung, karena kami tidak perlu harus menjadi seseorang yang begitu ekstrem memandang diri sendiri hanya berdasarkan kaca-mata kesukuan atau etnis semata, tetapi menjadi anugerah karena kami menjadi bisa lebih menerima keragaman dan perbedaan yang ada, yang semuanya merupakan rahmat anugerah, di mana semua selalu ada kebaikan dan kekurangannya.

Continue reading Benarkah Kita Berada Pada Titik Nadir Kehidupan?

Pemikiran Yang Salah Kaprah Namun Membudaya Haruskah Dipertahankan Dengan Alasan Budaya?

Sudah terlalu sering saya mendengar budaya menjadi alasan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah atau kurang tepat. Budaya dijadikan tameng, dan apa kata orang itu menjadi lebih penting dari kebenaran terima dan mau dibilang bodoh. Mau dibilang pintar pun, kenapa tidak juga berpikir lebih maju agar budaya yang salah itu diubah menjadi yang benar? Apakah memang semua budaya itu sudah pasti benar hanya karena sudah menjadi budaya yang dibenarkan dan bahkan diyakini banyak orang? Bagaimana bila budaya itu sendiri sudah bertentangan dengan ajaran agama yang katanya diyakini dan diimani, bahkan diikuti sebaik mungkin, apakah tetap harus dipertahankan?

@mariska.lubis

Sudah bukan satu dua orang lagi pasangan muda yang bercerita kepada saya bagaimana mereka sulit untuk menikah, karena mereka belum sanggup memenuhi segala persyaratan yang diberikan oleh orang tua mereka. Persayaratan itu sebenarnya bukan persyaratan utama yang memang diwajibkan dalam agama, namun lebih kepada karena budaya yang dilakukan oleh kebanyakan orang dan dibenarkan. Antara lain adalah pesta pernikahan yang memakan biaya banyak, dan seringkali membuat pasangan baru menikah terjebak dengan hutang justru pada saat baru saja memulai membangun rumah tangga.

Continue reading Pemikiran Yang Salah Kaprah Namun Membudaya Haruskah Dipertahankan Dengan Alasan Budaya?

Teruntuk Para Perempuan Cantik Ibu Pertiwi

Seorang perempuan cantik berjalan anggun gemulai menelusuri jalan, melewati para pria bermata terbelalak dan jantung berdegup menikmati keindahan yang ada di depan mata mereka. Tanpa ada rasa takut ataupun ragu, perempuan cantik itu terus berjalan, mengabaikan semua pandangan mata yang tertuju padanya. Dia tahu persis bagaimana kecantikan dan daya tariknya bisa membuat jungkir balik dunia semua pria, sehingga dia tidak perlu harus membuktikannya hanya untuk dipuja dan dipuji. Waktu percuma terbuang hanya untuk meladeni para pria itu, ada banyak yang lebih penting yang bisa dilakukannya. Semua kecantikan dan daya tariknya itu, bukan hanya untuk dipuja dan dipuji, tetapi bisa digunakan sebaik-baiknya untuk memberikan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi semua.

Ada yang iri hati dan merasa tersaingi oleh kehadirannya, bahkan tak sedikit yang merasa cemburu. Tidak ada satu pun yang membuatnya harus menjadi takut dan kemudian kehilangan arah di dalam mencapai tujuannya. Ibarat anjing menggonggong, kafilah berlalu. Untuk apa ambil pusing dengan perkataan orang lain bila tidak ada satupun manusia di dunia ini yang pasti tahu dan benar? Sungguh merugi bila lebih memilih mengikuti kata orang dan mengikuti apa yang diinginkan mereka, bila ada kebenaran yang sejatinya diyakini dengan sepenuh hati. Apa bedanya dengan menduakan Yang Maha Benar bila kebenaran itu diabaikan dan kata oranglah yang lebih diutamakan?!

Continue reading Teruntuk Para Perempuan Cantik Ibu Pertiwi

Ah, Senangnya Nostalgia Bersama Blogger Di Masa Itu…

Waktu berlalu dengan sedemikian cepatnya, tidak terasa banyak sekali yang terlewatkan. Sejak berjumpa dengan seorang kawan lama secara tak sengaja di Jakarta, lalu berlanjut di Bandung, jadi teringat lagi dengan masa-masa lucu ketika baru masuk ke dunia blog. Ada yang sudah tidak lagi bisa bersama, tetapi masih banyak kenangan indah yang tidak mungkin saya lupakan begitu saja. Apalagi sekarang masih ada yang bersama, bergabung di Steemit juga, seperti Bang @rismanrachman, @syamar, @acehpungo, @jodhiyudhono, dan @diankelana, rasanya menyenangkan sekali.

Kenangan bersama kompasianer di masa lalu ketika berkumpul di Taman Izmail Marzuki. Komik ini dibuat oleh @babehhelmi.

Saya masih ingat sekitar tahun 2009 saya mulai menulis di blog Kompasiana, dan mulai membagikan tulisan saya di Facebook dan kemudian juga di Twitter. Saya pun memiliki beberapa blog pribadi di wordpress (http://bilikml.wordpress.com yang masih ada), juga beberapa akun Fans Page. Rasanya senang sekali bisa menulis bebas tanpa harus ada banyak aturan seperti menulis di media massa. Kita bisa menjadi diri sendiri dan tidak perlu takut menulis sesuai dengan jiwa dan pribadi kita, topiknya pun sesuai dengan keahlian dan minat masing-masing, sehingga blog membuat saya merasa sangat nyaman.

Boleh dibilang, masa-masa awal dikenalnya blog dan jejaring sosial di Indonesia menjadi sangat menyenangkan. Kita bisa berkenalan dan berjumpa dengan banyak orang, saling berbagi dan menjalin silaturahmi. Kalaupun ada beda pendapat, itu sudah biasa, namun tidak berarti kemudian kami harus saling membenci dan saling menghina, setiap orang bebas dengan pemikiran dan pendapat masing-masing. Malah kami pun bisa menjadi sangat akrab satu sama lain dan hingga kini, walaupun kami sempat terputus hubungan karena satu dan lain hal, kami tetap merasa bahagia bila bisa berjumpa lagi dan terus berkomunikasi dengan baik.

Continue reading Ah, Senangnya Nostalgia Bersama Blogger Di Masa Itu…